Jumat, 03 September 2021

Mantan Juara Dunia Kelas 125cc Tahun 2005 Resmi Pensiun Musim Ini

Thomas Luthi

Pembalap Moto2 asal Swiss, Thomas Luthi menyatakan dirinya pensiun dari dunia balap musim ini karena merasa sudah tidak sanggup bersaing dengan pembalap-pembalap muda. 
 
Pembalap yang menjadi juara dunia kelas 125cc pada tahun 2005 ini sudah berkarir selama 19 tahun sejak masih remaja. Thomas Luthi sepanjang karirnya sudah mengoleksi 17 kemenangan sejak membalap di kelas capung dan merengkuh gelar juara dunia di usia 19 tahun dengan mengendarai motor Honda RS 125 bersama tim yang ia dirikan sendiri yaitu Elit Grand Prix. 
 
Kecuali pada tahun 2006 s/d 2009 saat membalap di kelas 250cc ia hanya 2 kali naik podium tanpa menang satu seri balap pun. Barulah pada tahun 2010 ia kembali merengkuh kemenangan saat kelas 250cc diganti dengan kelas Moto2. 
 
Dengan mengendarai motor Moriwaki MD600 ia cuma meraih 3 kali podium dan meraih kemenangan di GP Malaysia ketika mengendarai motor Suter MMX pada tahun 2011. 

Total ia meraih 17 kali menang, 65 kali naik podium dan 19 kali meraih pole position sepanjang karirnya sebagai penggeber kuda besi profesional.
Tim yang ia naungi sekarang ini Mandalika Racing Team SAG adalah pelabuhan terakhirnya sebelum gantung helm. 

Tahun depan posisi Thomas Luthi akan diganti oleh pembalap Argentina, Gabriel Rodrigo yang saat ini bergabung dengan Indonesian Racing Gresini Honda. 
Sedangkan rekan satu timnya, pembalap asal Belanda' Bo Bendsneyder naik kelas ke MotoGP bersama Tim satelit Ducati.

*****
 
 

Jumat, 06 Agustus 2021

Valentino Rossi Resmi Pensiun, Marc Marquez Jangan Senang Dulu (Sebab Ada...)

 


Pensiunnya Valentino Rossi dari dunia balap bukan berarti Marc Marquez bisa membobol rekornya suatu hari nanti. Sebab, masih banyak pembalap-pembalap yang sudah siap meruntuhkan dominasi Marc Marquez dan Repsol Honda. 

Tidak sedikit pembalap yang mampu membuat Marc Marquez terjungkal dan tersungkur dari lintasan karena aksi-aksinya yang memukau penonton setia kejuaraan balap motor dunia. Pensiunnya Valentino Rossi dari dunia balap tidak menjadi berkah bagi Marc Marquez, karena bisa jadi Marc Marquez tidak mewaspadai munculnya pewaris tahta Valentino Rossi di sirkuit. 

Tidak semudah membalikan telapak tangan, itu ibarat yang dialami oleh Marc Marquez saat ini' Repsol Honda saja motornya masih bermasalah, bagaimana mau mendominasi dunia balap lagi' kalau problema yang muncul di tahun-tahun sebelumnya masih ada ?

Ditambah beberapa murid jebolan VR46 Academy menjadi ancaman serius bagi dominasi pembalap-pembalap Spanyol yang semakin hari semakin melunak pengaruhnya akibat terlalu memanjakan pembalap asing. 

Valentino Rossi pensiun saja kisahnya hampir sama dengan kisah pensiunnya Mick Doohan, juara dunia kelas 500cc lima kali berturut-turut. Dunia balap merasa kehilangan ikon dan sosok paling berpengaruh yang mengubah dunia balap pada zamannya. 

Tapi pensiunnya Mick Doohan tidak membuat publik menunggu lama-lama mencari idola baru, Valentino Rossi yang digembleng langsung oleh Mick Doohan langsung moncer meski di musim debutnya ia cuma jadi runner-up. 

Coba pikir, bukan berarti Marc Marquez bisa mengalahkan rekor gelar juara dunia milik Valentino Rossi dan Giacomo Agostini. Karena pengaruh politik uang pun bisa menjadi penghalang bagi Marc Marquez untuk menggapai gelar juara dunia melebihi Valentino Rossi apalagi Giacomo Agostini. 

Usia memang menjadi masalah ketika kebugaran fisik mulai menurun bagi para pembalap motor di seluruh ajang, entah itu di MotoGP, Superbike dan Motorcross. Kuat kemungkinan Marc Marquez akan mengalami nasib seperti Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo dan Alex Criville yang mengalami masalah kebugaran ketika sudah memasuki usia-usia kepala tiga. 

Pewaris tahta sebagai ikon MotoGP bukan berarti ia akan dihormati terus-terusan, tetapi juga akan terus-terusan dikritik sekaligus dibenci karena terlalu nyaman dengan kondisinya sekarang. Jadi, jangan sok-sok jadi juara dunia kalau belum pernah mengendarai merek motor selain Honda. 

*****


Jumat, 23 Juli 2021

Norifumi Abe, Pembalap 500cc Remaja era 90an yang Melegenda (Part 03)

 

Norifumi Abe bersama Loris Capirossi, Jean Michel Bayle dan Kenny Roberts JR mengaspal dalam bendera tim yang sama dan sponsor yang sama. Sayangnya pengembangan motor YZR 500 dianggap lambat dan ketinggalan jaman sehingga Yamaha sulit bersaing dengan Honda. 

Al hasil, Yamaha cuma bisa menang 2 kali dan merengkuh podium 4 kali dalam satu musim sehingga gagal menggeser dominasi Honda yang hebat di segala lini. Mulai dari tim pabrikan hingga tim Satelit, Honda benar-benar unggul meski yang paling banyak menang cuma Mick Doohan saja. 
 
Norifumi Abe masih aman posisinya karena kontraknya baru ditambah dan berakhir pada tahun 1998. Sedangkan Loris Capirossi yang menang di seri terakhir malah cuma dikontrak satu musim akhirnya terdepak dari kelas 500cc. 
 
Kenny Roberts JR dan Jean Michel Bayle masih bertahan di kelas 500cc karena didukung sponsor, Sayangnya manager tim pabrikan Yamaha' Kenny Roberts Senior hengkang bersama kedua pembalap andalannya tadi karena ketidakpuasaan terhadap kinerja Yamaha. 
 
Norifumi Abe membalap sendirian untuk tim Yamaha di musim selanjutnya saat kepemimpinan dipegang oleh Wayne Rainey. Untuk menemani Abe, masuklah pembalap Spanyol yang sempat membalap di kelas 250cc yaitu Sete Gibernau. 
 
*****

Sabtu, 19 Juni 2021

Yamaha TZ 250 M, Motor Lembek Dengan Sasis Kuat

Foto : Yamaha TZ 250 M, Dikendarai Erwan Nigon

Yamaha TZR250 adalah sepeda motor yang dirancang dan diproduksi oleh pabrikan sepeda motor Jepang Yamaha antara tahun 1986 dan 1995.

Yamaha memproduksi sepeda motor balap Yamaha TZ250 dengan teknologi Parallel-twin, reverse cylinder dan memiliki varian V-twin 90 °.  Teknologi yang dipasang ini berkembang sebagai pengganti natural untuk seri RD 250/Yamaha RD350LC yang populer tahun 1980-an. 
 
Motor ini memiliki fitur canggih bernama Yamaha Power Valve System 'YPVS', gunanya menaikkan dan menurunkan tingkat pembuangan yang tergantung pada rpm mesin. Putaran tenaga YPVS mulai terbuka mencapai sekitar 6.000 rpm. Dalam bentuk standarnya menghasilkan 45 hp karena knalpot standar dan kotak pengapian yang terbatas.
 
TZR250 masih dilombakan di seri balapan Yamaha Past Masters dengan klub balap Inggris (BMCRC) pada 2018.  Mesin balap saat ini mengklaim sekitar 56 hp (42 kW) pada 11.000 rpm. Rasio bahan bakar balap biasanya 1:30. 

Knalpot standar berbahan keras dipasang untuk meningkatkan tenaga dan torsi mesin, tetapi ukurannya sangat besar dan menghalangi ground clearance. Knalpot Jolly Moto (pembuat knalpot asal Italia) adalah jenis knalpot pengganti yang populer karena lebih ringan, menghasilkan kinerja yang serupa sekaligus meningkatkan ground clearance.

Sebuah body kit balap F3 diproduksi selama beberapa tahun yang mencakup kotak pengapian, karbo dan knalpot, membantu meningkatkan putaran maksimum, tenaga dan torsi.
Produksi dimulai pada bulan Juni 1986 dengan biaya sekitar $6.000 dan baru dirilis saat itu karena dilihat sebagai sepeda motor balap yang mahal untuk ketagori 250cc, tetapi mengingat tempat-tempat seperti Jepang, Italia dan Australia memiliki 250 undang-undang lisensi di tempat orang dapat membayangkan guncangan bahwa sesuatu yang bisa merepotkan di trek yang disebabkan oleh tenaga mesin yang besar namun agak lembek. 

Varian 2MA kembar menjadi varian pilihan konsumen di Inggris dan model 1KT menjadi model domestik untuk pasaran Jepang yang juga dilengkapi dengan CDI yang lebih ketat untuk mematuhi undang-undang Jepang yang menetapkan batas atas 45 hp untuk sepeda motor 250cc. 

Variasi antara kedua model ini minimal, misalnya pada rem master silindernya dalam kalimat bahasa Inggris atau Jepang. Pengaturan pencahayaan motor juga berbeda, untuk mematuhi peraturan Undang-Undang di Inggris, terutama indikator dipasang pada tangkai daripada dipasang pada bodi.

Pada tahun 1989, motor TZ 250 versi silinder terbalik dengan paralel kembar, 3MA tiba (3MA1). Pada motor TZ 250 series untuk tahun produksi 1990 yakni versi 3MA dengan dipasangi garpu terbalik serta ruang besar untuk ekspansi berbentuk besar untuk lebih banyak daya mid-range dengan mengorbankan sedikit daya top-end (3MA3). Kemudian pada tahun 1991-1996 dirilis TZ 250 series bermesinkan Yamaha V-twins 3XV.

The 3XV dijual secara harga lumayan mahal dalam 8 varian dengan mesin berbahan karbo yang berbeda, pengapian, kopling basah/kering, tiga versi daya katup, masing-masing silinder digambarkan oleh nomor papan yang beda warna pada panel samping dan fairing depan. Nama Yamaha TZ 250 versi ini diantaranya menjadi 250R; 250RS; 250RSP; 250SP dan 250SPR.

Varian Yamaha TZ250 M mengikuti konfigurasi motor balap TZ250 versi legal kala itu, memiliki casing yang dibagi pada mesin yang sama, bingkai dan dalam beberapa model mesin silinder, karbo, dan katup dayanya.

Di MotoGP kelas 250cc, motor Yamaha TZ 250 memenangkan gelar juara pada tahun 1990 dan 1993. Tahun 1990 Yamaha TZ 250 M dikendarai oleh pembalap asal Amerika Serikat' John Kocinski (Dengan Catatan) ia pernah memakai motor seri YZR 250 yang merupakan motor berstatus official factory made for race. 

Tahun 1993, pembalap asal Jepang' Tetsuya "Cool Devil" Harada berhasil menjadi juara dunia meski tenaga motornya lembek. Namun, dengan konsistensi dan kinerja kru mekanik yang handal membuatnya bisa memenangkan balapan walau lawannya tangguh-tangguh.

*****

Sabtu, 22 Mei 2021

Sejarah Team Roberts atau Team KR

 

Norifumi Abe, Marlboro Team Roberts 1994

Kenny Roberts telah pensiun dari kompetisi balap motor pada akhir 1983 setelah memperoleh 3 gelar kejuaraan dunia dengan sepeda motor Yamaha, yaitu pabrikan sepeda motor Jepang yang ia tetap setia sepanjang karirnya. Berkat relasinya yang baik, ia berhasil mendapatkan dukungan resmi dari Tuning Fork Home untuk memulai karir barunya sebagai manajer tim balap. Kegiatan ini sudah dimulai pada kejuaraan dunia tahun 1984 di kelas 250cc, tim balapnya menurunkan Wayne Rainey sebagai pembalap top lokal bersama Alan Carter yang merupakan sesama pembalap Amerika Serikat.

Pada 1986 ia menurunkan tim di kelas 500cc sebagai privateer team, sekali lagi dengan motor buatan Yamaha, dengan mengandalkan Randy Mamola sebagai rider utama di setiap edisi balapan yang menyelesaikan musim perdana di posisi ketiga dalam klasemen pembalap dan berhasil meningkatkan performa apik lebih jauh di tahun berikutnya, finis di posisi klasemen kedua. Kemudian Team Roberts harus kehilangan Randy Mamola yang hijrah ke tim pabrikan Cagiva pada tahun 1988. 
 
Lantas tim ini menyusun line up baru di kelas utama' dimana Wayne Rainey diapit oleh Kevin Magee sebagai duo maut Yamaha pabrikan, mereka masing-masing finis di posisi ketiga dan kelima dalam klasemen akhir pembalap. Duo line up pembalap yang sama juga berhasil sukses melewati musim 1989 dengan menempati posisi kedua dan kelima klasemen akhir.

Pada tahun 1990, Marlboro menjadi sponsor baru menggantikan Lucky Strike yang pindah ke Suzuki Grand Prix Team yang notabene merupakan rival bebuyutan, Tim Yamaha milik Roberts bersaing di dua kela : Wayne Rainey berduet dengan Eddie Lawson yang hengkang dari Honda setelah menjadi juara di musim 1989 dan John Kocinski membalap untuk tim ini di kelas 250cc dengan memaki motor Yamaha YZR250. 
 
Ini adalah tahun yang sangat positif dan gemilang bagi tim Roberts dimana Wayne Rainey menjadi juara dunia kelas 500cc dan John Kocinski menjadi juara dunia pula di kelas 250cc. 
 
Pretasi tim Roberts di kancah balap dunia makin meroket dan berlanjut pada musim 1991 dimana Wayne Rainey berduet dengan John Kocinski yang pada tahun sebelumnya adalah juara kelas menengah 250cc. Sayangnya John Kocinski hanya dikontrak dua musim dan pada akhir tahun 1992 ia kembali menggeber motor kelas 250cc bersama tim Lucky Strike Suzuki Tech 3 untuk musim 1993. 

Posisi kosong untuk teammate Wayne Rainey jatuh pada Luca Cadalora dari Italia yang sukses menjuarai kelas 250cc dua kali berturut-turut pada tahun 1991-1992. Bahkan Cadalora diproyeksikan sebagai penerus Wayne Rainey.

Tragisnya Wayne Rainey pensiun dari dunia balap sebelum musim 1993 usai setelah mengalami kecelakaan yang membuanya lumpuh seumur hidup. Kecelakaan itu terjadi saat berlangsungnya balapan di sirkuit Misano, San Marino. 

Wayne Rainey pensiun, menjelang musim 1994 ia digantikan oleh Daryl Beattie dari Australia yang dulunya merupakan pembalap tim Honda Kanemoto. Sayangnya karir pembalap asal negeri kanguru itu diwarnai cidera parah sehingga lebih sering absen dan diganti.

Di tahun itu pula posisi Daryl Beattie diganti sementara oleh pembalap muda asal Jepang, Norifumi Abe yang tampil fantastik di sirkuit Suzuka. Abe cukup hebat dan secara eksklusif ia dikontrak 4 tahun oleh Yamaha.

Luca Cadalora dan Norifumi Abe berduet sebagai pembalap andalan Yamaha dimana Cadalora menang di sirkuit Brno, Republik Ceko dan sirkuit Jacarepagua. Sedangkan Abe meraih podium perdananya di sirkuit Jacarepagua, Brazil.
 
Pada tahun 1996 putra Kenny Roberts yaitu Kenny Roberts JR bergabung dengan Norifumi Abe di tim utama Yamaha bersama Jean-Michel Bayle. Dan musim ini merupakan musim yang buruk dimana Yamaha tidak mampu mengalahkan Honda yang sangat superior sepanjang musim. Dan pada akhir musim 1996, tim milik Roberts putus kontrak dengan Yamaha lalu menjalin kerjasama dengan pabrikan motor asal Malaysia, Modenas untuk mengarungi musim 1997.

Kerjasama tim Roberts dengan pabrikan motor Modenas menghasilkan motor bermesin tiga silinder yang bermerek Modenas KR3, motor balap ini diproduksi di Malaysia dan pengembangannya dilakukan di Inggris. Sayangnya pada musim 1997 s/d 1999 performa motor ini tidak maksmal dan menjadi mimpi buruk bagi klasemen pembalap dan konstruktor. 

Modenas pun mundur dari kejuaraan dunia pada tahun 2000 dan posisinya diambil alih oleh sesama perusahaan otomotif Malaysia yaitu Proton' milik Perdana Menteri Malaysia kala itu, Dato Tan Sri Mahathir Muhamad.

Pada tahun 2001, pembalap asal Belanda' Jurgen Van Den Goorbergh direkrut sebagai pembalap tunggal lantaran minimnya pendanaan dari sponsor untuk penghematan gaji.

Dengan berlakunya mesin 4 tak, tim Roberts atau sekarang disebut tim KR merombak susunan pembalapnya dengan mengajak Jeremy McWilliams dan Nobuatsu Aoki sebagai pembalap utama untuk musim 2002 dan 2003.

Situasinya tidak membaik bahkan pada tahun berikutnya karena Jeremy McWilliams pindah ke Aprilia dan posisinya diganti oleh anak kedua Kenny Roberts, ialah Kurtis Roberts dan sempat diganti juga oleh pembalap asal Inggris James Haydon pada balapan terakhir musim 2004 di mana Kurtis Roberts mengalami cedera.

Pada tahun 2005 Roberts menandatangani kontrak perjanjian untuk pasokan mesin dengan pabrikan asal Austria, KTM. Tetapi perjanjian tersebut berakhir sebelum musim berakhir dan pihak hanya memperoleh satu poin di seluruh musim. 
Sedangkan nama resminya berganti menjadi Team Roberts saja tanpa embel-embel pabrikan manapun serta kehilangan banyak sponsor.
 
Pada tahun 2006, tim Roberts mendapat dukungan teknis dari Honda, Pihak management HRC sendiri memasok mesin motor RC 211V yang usianya setahun lebih tua. Mereka menciptakan motor balap baru dengan merek KR 211V yang dihasilkan dari kerjasama itu. Kenny Roberts JR ditunjuk sebagai pembalap tunggal lantaran minimnya dana sponsor dan ia menghasilkan 2 podium.

Situasi berubah pada tahun 2007 saat regulasi mesin dirombak, mesin motor 990cc digantikan mesin 800cc lantaran kencangnya motor generasi terdahulu yang sempat memakan korban jiwa. Honda menyuplai mesin 800cc untuk tim Roberts dan menciptakan motor baru yakni KR 212V. Sayangnya motor tersebut kurang kompetitif dan hanya mendapat sedikit poin.

Seusai balapan di sirkuit Valencia, tim Roberts dibubarkan oleh pemiliknya setelah 22 tahun beroperasi sebagai kompetitor kuat dengan menghasilkan banyak kemenangan dan podium.
 
*****

Selasa, 27 April 2021

World Wide Race (Dalam Bahasa Inggris)

 

Picture :Roberto Locatelli ride in Diesel Vasco Rossi team

World Wide Race is a motorcycle team based in Luxembourg with a logistics and organizational base in Switzerland.
 
The team was founded in 1997 thanks to the funding of the singer Vasco Rossi, with the name that becomes "Vasco Rossi Racing" by virtue of this commercial agreement. The debut on the track took place in the 125 class of the 1998 World Championship with Ivan Goi as rider, the bikes were Aprilia and the technical department headed by Italo Fontana while the team manager of the team was Fiorenzo Caponera. [

In 1999 the team expanded his participation in the 250 class with Roberto Rolfo as a rider, while they continued in the 125 class by hiring Roberto Locatelli, with the latter taking the first victories in a team GP. In the 2000 world championship the team wins the title of world champion in the 125 class with Roberto Locatelli. They also participates with Simone Sanna as second rider in the 125 class and Luca Boscoscuro in 250.

After the partnership with Vasco Rossi at the end of 2000, in 2001 the team found new financiers by taking the name of "Safilo Oxydo Race", confirming Sanna in 125 and taking Rolfo back for the 250 class.
 
In the 2002 season it changed its name again becoming "Imola Circuit Exalt Cycle Race", winning for the second time in its history the world title in the 125 class, on this occasion with the French rider Arnaud Vincent. Franco Battaini is deployed in the 250 class who finishes sixth in the general classification.

Winning the world title, Vincent leaves the team, replacing him with Steve Jenkner, the German rider wins his first race in the world championship this year at the Dutch GP. 
 
Together with Jenkner, Hungarian Gábor Talmácsi runs in the same class. 
Yet another name change in 2004, with the team becoming "Rauch Bravo"; confirmed Jenkner, Marco Simoncelli is hired as the new rider, obtaining his first victory in the world championship at the Spanish GP.

In 2005 the team confirmed Simoncelli in the 125 class, alongside the Spanish rider Joan Olivé, while Jenkner was reconfirmed but was moved to the 250 class. To report the results of Simoncelli, who won the Spanish GP for the second consecutive year, also obtaining other five podium finishes over the course of the championship.
 
The team enters the 2006 world championship as "Multimedia Racing", fielding three new riders in the 125 class who are: Pablo Nieto, Raffaele De Rosa and Vincent Braillard. Nieto and De Rosa get some points finishes, with Braillard not getting championship points.
 
There are still three riders also in 2007, with De Rosa reconfirmed to which two new riders are added, Dominique Aegerter and Simone Grotzkyj. Also in this year some points were obtained, without obtaining podium finishes. 
 
The 2008 MotoGP World Championship takes part as "I.C. Team", replacing all three riders from last season and engaging in their place: Andrea Iannone, Michael Ranseder and Takaaki Nakagami. Iannone himself won his first race in the world championship at the Chinese GP, bringing the team back to victory (an event that had not occurred since 2005).

In 2009, raced as "Ongetta Team I.S.P.A", the riders entered in the 125 class of the world championship rise to four, Iannone and Nakagami are reconfirmed, while Jonas Folger and Lorenzo Zanetti are hired this season. 
 
Iannone confirms himself as the best rider of the team, with seventh place in the general classification, winning three races, another podium finish and two pole positions. A podium placement also for Folger, while Nakagami and Zanetti get some placements in the points.

Five riders entered the team in 2010, with Folger (the only confirmed driver compared to 2009), Alexis Masbou and Luca Marconi racing with "Ongetta Team". 
 
While two other riders, Sturla Fagerhaug and Zulfahmi Khairuddin registered as team riders " AirAsia - Sepang Int. Circuit ". None of the five, however, manages to get a podium finish, managing on some occasions to get points for the riders' classification.
 
Three motorcycles lined up for the 2011 world championship are back, entrusted to the returning Simone Grotzkyj, Taylor Mackenzie and Giulian Pedone; with the change of sponsorship the team becomes "Phonica Racing". Also in this year the results see the three riders obtain some points, without significant placements.
 
In 2012 the 125 class was suppressed from the world championship, therefore the team, which this season became "Ambrogio Racing", enrolled in the Moto3 class. 
 
Initially confirming two of the three riders lined up the previous season, Simone Grotzkyj and Giulian Pedone, to then replace, after the Italian Grand Prix, Grotzkyj with Álex Márquez. 
 
Given the change in class, the supplier of the motorcycle also changes, after 13 years the collaboration with Aprilia ends, the team decides to rely on Oral motorcycles for the first three races of the season, to then complete the season with Suter MMX3.

Change of both riders for the 2013 season, with the signing of Brad Binder and Danny Webb, although the latter was replaced after the first seven races of the championship first by Jules Danilo and then by Luca Amato. Also as regards the motorcycle used there was a change during the season, with the first twelve GPs raced with Suter motorcycles, and then in the last six GPs passed to Mahindra MGP3O motorcycles.
 
For 2014 Brad Binder is confirmed and Jules Danilo (who had already raced as a replacement rider last year) is called to race as a starting rider. The South African Binder gets the second place at the GP of Germany, for him this is the first podium in his career in the context of the world championship. 
 
A South African rider had not achieved a podium finish in the world championship for 29 years, since Mario Rademeyer finished third in the 1985 South African GP raced at Kyalami in the 250 class. Binder also gets another podium at the Japanese GP, placing eleventh in the world championship standings with 109 points.

Change of sponsorship and consequent change of name for the 2015 season, with the team now becoming "Outox Reset Drink". 
I change also as regards the riders, Alessandro Tonucci and Darryn Binder (brother of Brad Binder, team rider in the two previous years) are signed, even if neither of them manages to get points for the riders' classification.

In 2016 he participates as "Platinum Bay Real Estate", confirming Darryn Binder for the second season, while Karel Hanika is initially hired as the second rider, even if the latter is replaced after the first seven races on the calendar by Danny Webb, who after two races is also replaced with Marcos Ramírez. This season the team gets world championship points with Binder and Ramírez.

Also confirmed in 2017 Binder and Ramírez, who had finished the 2016 championship, but the motorcycle used was changed, the team decided to switch to the KTM RC 250 GP.
 
In 2018 the starting riders are the Spaniards Jaume Masiá and Marcos Ramírez, the latter obtaining two podium finishes this season. At the end of this season the team is fifth in the team standings. In 2019 the riders are Andrea Migno and Jaume Masiá, who wins the Argentine Grand Prix. At the end of the season they are respectively thirteenth and not placed in the riders' standings and the seventh team in the team standings.

After 23 years of continuous participation in world championship competitions, in the 2020 season he does not register due to the lack of sponsorships.

*****

Rabu, 14 April 2021

Technical Sports Racing (Dalam Bahasa Inggris)

Picture : Nobuatsu Aoki

Technical Sports Racing (also known by the acronym TSR) is a Japanese company that produces components for motorcycles.

Since 1991 the squad has participated, with various models of motorcycles, in various classes of the world championship. The first few seasons they raced only as a team, while from 1998 he entered the 250 class as a manufacturer, also expanding to the 500 class the following season.
 
TSR took part in the world championship in a double role, both as a team and as a manufacturer; in both cases the team has always had a close working relationship with Honda.

In 1991 the only rider of the team was Noboru Ueda, who won two wins this season, while in 1992, again in 125, Kazuto Sakata lined up.

In 1993 they entered the 125 class with Kazuto Sakata and Takeshi Tsujimura, who finished second and third in the standings with three victories in total.

In the following season Takeshi Tsujimura is confirmed in 125, who wins four times during the season, flanked by Tomoko Igata and for three races by Tomomi Manako.

In 1995 the team owner confirmed Tomoko Igata and Tomomi Manako for the 125 class and took Takeshi Tsujimura up to the 250 class.

The following year TSR squad lined up at the start of the only 250 class, with Takeshi Tsujimura and Yasumasa Hatakeyama.

In 1997 the team lined up a 1996 spec Honda NSR 500 in the 500 class entrusted to Nobuatsu Aoki, who finished third in the standings with four podiums, while in the 250 class the starting rider was Takeshi Tsujimura, who finished in seventh position.

In 1998 the riders of the FCC TSR team were Matt Wait in the 500 class on a Honda NSR 500 V2 and Haruchika Aoki in 250, equipped with Honda NSR 250, who also won a podium. TSR also participates as a manufacturer, supplying the TSR-Honda 250 in the middle class to other riders, such as Luca Boscoscuro, Jeremy McWilliams, Roberto Rolfo and Jason Vincent, finishing in 4th place in the constructors' classification.
 
In 1999 japanese blue squad presented at the start in 500 Haruchika Aoki, flanked by José Luis Cardoso, the latter with a team called Maxon TSR, being replaced in a grand prix by David de Gea; in the constructors' classification it is sixth. 
 
This season they participates with the TSR-Honda AC50M, a motorcycle equipped with a frame designed by TSR itself, with an engine supplied by Honda. In the 250 they limits his commitment to the role of constructor, equipping various teams and riders, obtaining the fourth position. The only direct presence as a team is that of Tekkyū Kayō, taking advantage of a wildcard in his home GP.

The following year the driver for the premier class is Yoshiteru Konishi, replaced for a grand prix by Tekkyū Kayō, and the final result in the constructors' classification is 5th place. In 250 the role of constructor prevails again and the fourth position in the standings is confirmed; once again Kayo runs in Japan as a wildcard.

In 2001 the blue squad only took part in the 125 class with Noboru Ueda, who obtained a victory in the Italian GP, ​​taking 5th place among the constructors.
 
In 2002 Andrea Ballerini was hired for the 125, who was replaced in the last few races by Dario Giuseppetti, in turn flanked twice by Joshua Waters.

In 2010, TSR returns to the start of the world championship in the Moto2 class by providing its TSR 6 to the JiR team which, for sponsorship reasons, enrolls it as a Motobi. The only TSR-branded participation takes place in the home match by fielding Yusuke Teshima.

In 2011 the relationship with JiR continues, with only Alex De Angelis; he also takes part directly in the home GP by running Tomoyoshi Koyama, the relationship will continue for 2012, 2013 and 2014.
 
Sponsor :
 
01. The main sponsor is consistently clutch maker F.C.C. The machine coloring with the company's logo on a white background in bright blue is called "F.C.C.blue" and is popular as a custom paint for Honda's sports bikes.
 
02. In the World Endurance Championship, from the 2017-2018 season, he has teamed up with the French Honda subsidiary "Honda France" to participate as "F.C.C. TSR Honda France". The team colors are the French flag and three colors of blue, white and red.
 
03. Previously, Nagoya's FM radio station ZIP-FM joined the Suzuka 8 Hours as a spot sponsor from 1995 to 2007. The number at that time was # 778 from the ZIP-FM frequency.