Tampilkan postingan dengan label MotoGP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MotoGP. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Agustus 2021

Valentino Rossi Resmi Pensiun, Marc Marquez Jangan Senang Dulu (Sebab Ada...)

 


Pensiunnya Valentino Rossi dari dunia balap bukan berarti Marc Marquez bisa membobol rekornya suatu hari nanti. Sebab, masih banyak pembalap-pembalap yang sudah siap meruntuhkan dominasi Marc Marquez dan Repsol Honda. 

Tidak sedikit pembalap yang mampu membuat Marc Marquez terjungkal dan tersungkur dari lintasan karena aksi-aksinya yang memukau penonton setia kejuaraan balap motor dunia. Pensiunnya Valentino Rossi dari dunia balap tidak menjadi berkah bagi Marc Marquez, karena bisa jadi Marc Marquez tidak mewaspadai munculnya pewaris tahta Valentino Rossi di sirkuit. 

Tidak semudah membalikan telapak tangan, itu ibarat yang dialami oleh Marc Marquez saat ini' Repsol Honda saja motornya masih bermasalah, bagaimana mau mendominasi dunia balap lagi' kalau problema yang muncul di tahun-tahun sebelumnya masih ada ?

Ditambah beberapa murid jebolan VR46 Academy menjadi ancaman serius bagi dominasi pembalap-pembalap Spanyol yang semakin hari semakin melunak pengaruhnya akibat terlalu memanjakan pembalap asing. 

Valentino Rossi pensiun saja kisahnya hampir sama dengan kisah pensiunnya Mick Doohan, juara dunia kelas 500cc lima kali berturut-turut. Dunia balap merasa kehilangan ikon dan sosok paling berpengaruh yang mengubah dunia balap pada zamannya. 

Tapi pensiunnya Mick Doohan tidak membuat publik menunggu lama-lama mencari idola baru, Valentino Rossi yang digembleng langsung oleh Mick Doohan langsung moncer meski di musim debutnya ia cuma jadi runner-up. 

Coba pikir, bukan berarti Marc Marquez bisa mengalahkan rekor gelar juara dunia milik Valentino Rossi dan Giacomo Agostini. Karena pengaruh politik uang pun bisa menjadi penghalang bagi Marc Marquez untuk menggapai gelar juara dunia melebihi Valentino Rossi apalagi Giacomo Agostini. 

Usia memang menjadi masalah ketika kebugaran fisik mulai menurun bagi para pembalap motor di seluruh ajang, entah itu di MotoGP, Superbike dan Motorcross. Kuat kemungkinan Marc Marquez akan mengalami nasib seperti Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo dan Alex Criville yang mengalami masalah kebugaran ketika sudah memasuki usia-usia kepala tiga. 

Pewaris tahta sebagai ikon MotoGP bukan berarti ia akan dihormati terus-terusan, tetapi juga akan terus-terusan dikritik sekaligus dibenci karena terlalu nyaman dengan kondisinya sekarang. Jadi, jangan sok-sok jadi juara dunia kalau belum pernah mengendarai merek motor selain Honda. 

*****


Jumat, 23 Juli 2021

Norifumi Abe, Pembalap 500cc Remaja era 90an yang Melegenda (Part 03)

 

Norifumi Abe bersama Loris Capirossi, Jean Michel Bayle dan Kenny Roberts JR mengaspal dalam bendera tim yang sama dan sponsor yang sama. Sayangnya pengembangan motor YZR 500 dianggap lambat dan ketinggalan jaman sehingga Yamaha sulit bersaing dengan Honda. 

Al hasil, Yamaha cuma bisa menang 2 kali dan merengkuh podium 4 kali dalam satu musim sehingga gagal menggeser dominasi Honda yang hebat di segala lini. Mulai dari tim pabrikan hingga tim Satelit, Honda benar-benar unggul meski yang paling banyak menang cuma Mick Doohan saja. 
 
Norifumi Abe masih aman posisinya karena kontraknya baru ditambah dan berakhir pada tahun 1998. Sedangkan Loris Capirossi yang menang di seri terakhir malah cuma dikontrak satu musim akhirnya terdepak dari kelas 500cc. 
 
Kenny Roberts JR dan Jean Michel Bayle masih bertahan di kelas 500cc karena didukung sponsor, Sayangnya manager tim pabrikan Yamaha' Kenny Roberts Senior hengkang bersama kedua pembalap andalannya tadi karena ketidakpuasaan terhadap kinerja Yamaha. 
 
Norifumi Abe membalap sendirian untuk tim Yamaha di musim selanjutnya saat kepemimpinan dipegang oleh Wayne Rainey. Untuk menemani Abe, masuklah pembalap Spanyol yang sempat membalap di kelas 250cc yaitu Sete Gibernau. 
 
*****

Rabu, 14 April 2021

Technical Sports Racing (Dalam Bahasa Inggris)

Picture : Nobuatsu Aoki

Technical Sports Racing (also known by the acronym TSR) is a Japanese company that produces components for motorcycles.

Since 1991 the squad has participated, with various models of motorcycles, in various classes of the world championship. The first few seasons they raced only as a team, while from 1998 he entered the 250 class as a manufacturer, also expanding to the 500 class the following season.
 
TSR took part in the world championship in a double role, both as a team and as a manufacturer; in both cases the team has always had a close working relationship with Honda.

In 1991 the only rider of the team was Noboru Ueda, who won two wins this season, while in 1992, again in 125, Kazuto Sakata lined up.

In 1993 they entered the 125 class with Kazuto Sakata and Takeshi Tsujimura, who finished second and third in the standings with three victories in total.

In the following season Takeshi Tsujimura is confirmed in 125, who wins four times during the season, flanked by Tomoko Igata and for three races by Tomomi Manako.

In 1995 the team owner confirmed Tomoko Igata and Tomomi Manako for the 125 class and took Takeshi Tsujimura up to the 250 class.

The following year TSR squad lined up at the start of the only 250 class, with Takeshi Tsujimura and Yasumasa Hatakeyama.

In 1997 the team lined up a 1996 spec Honda NSR 500 in the 500 class entrusted to Nobuatsu Aoki, who finished third in the standings with four podiums, while in the 250 class the starting rider was Takeshi Tsujimura, who finished in seventh position.

In 1998 the riders of the FCC TSR team were Matt Wait in the 500 class on a Honda NSR 500 V2 and Haruchika Aoki in 250, equipped with Honda NSR 250, who also won a podium. TSR also participates as a manufacturer, supplying the TSR-Honda 250 in the middle class to other riders, such as Luca Boscoscuro, Jeremy McWilliams, Roberto Rolfo and Jason Vincent, finishing in 4th place in the constructors' classification.
 
In 1999 japanese blue squad presented at the start in 500 Haruchika Aoki, flanked by José Luis Cardoso, the latter with a team called Maxon TSR, being replaced in a grand prix by David de Gea; in the constructors' classification it is sixth. 
 
This season they participates with the TSR-Honda AC50M, a motorcycle equipped with a frame designed by TSR itself, with an engine supplied by Honda. In the 250 they limits his commitment to the role of constructor, equipping various teams and riders, obtaining the fourth position. The only direct presence as a team is that of Tekkyū Kayō, taking advantage of a wildcard in his home GP.

The following year the driver for the premier class is Yoshiteru Konishi, replaced for a grand prix by Tekkyū Kayō, and the final result in the constructors' classification is 5th place. In 250 the role of constructor prevails again and the fourth position in the standings is confirmed; once again Kayo runs in Japan as a wildcard.

In 2001 the blue squad only took part in the 125 class with Noboru Ueda, who obtained a victory in the Italian GP, ​​taking 5th place among the constructors.
 
In 2002 Andrea Ballerini was hired for the 125, who was replaced in the last few races by Dario Giuseppetti, in turn flanked twice by Joshua Waters.

In 2010, TSR returns to the start of the world championship in the Moto2 class by providing its TSR 6 to the JiR team which, for sponsorship reasons, enrolls it as a Motobi. The only TSR-branded participation takes place in the home match by fielding Yusuke Teshima.

In 2011 the relationship with JiR continues, with only Alex De Angelis; he also takes part directly in the home GP by running Tomoyoshi Koyama, the relationship will continue for 2012, 2013 and 2014.
 
Sponsor :
 
01. The main sponsor is consistently clutch maker F.C.C. The machine coloring with the company's logo on a white background in bright blue is called "F.C.C.blue" and is popular as a custom paint for Honda's sports bikes.
 
02. In the World Endurance Championship, from the 2017-2018 season, he has teamed up with the French Honda subsidiary "Honda France" to participate as "F.C.C. TSR Honda France". The team colors are the French flag and three colors of blue, white and red.
 
03. Previously, Nagoya's FM radio station ZIP-FM joined the Suzuka 8 Hours as a spot sponsor from 1995 to 2007. The number at that time was # 778 from the ZIP-FM frequency.

Rabu, 27 Januari 2021

Romantika Valentino Rossi Bersama Tim Satelit Bikinan Mick Doohan & Jeremy Burgess (Part 02/END)


Terbentuknya tim Nastro Azzurro Honda mengundang pertanyaan mengapa HRC menempatkan Rossi di tim satelit. Mengingat dulu pada tahun 1998' Max Biaggi, rival abadi Valentino Rossi juga pernah ditempatkan pada posisi serupa. 

Sebagai pembalap tim satelit, Rossi didukung sponsor pribadi seperti halnya Biaggi ketika membulai debutnya di kelas 500cc. Valentino Rossi menjalani tes di sirkuit Jerez dengan memakai motor milik Mick Doohan yang lama menganggur selama musim 1999 lalu. 

Rossi mengaku terkejut betapa besarnya tenaga motor milik Mick Doohan yang kala itu membuat mentornya itu mengalami kecelakaan sehingga menderita patah kaki lalu pensiun dini lebih cepat. 

Valentino Rossi mendapat tekanan yang berat karena dia adalah pembalap termuda di tim Honda setelit. Kemudian sepanjang musim 2000, Rossi benar-benar menjalani siksaan berat karena kurangnya adaptasi. Berkali-kali terjatuh dan sempat beberapa kali memimpin jalannya balapan kemudian cuma menghiasi podium 2-3. 

Sampai akhirnya Rossi menuai keberhasilan saat menjalani balapan di GP Donington Park, Inggris dalam keadaan hujan deras. Hebatnya, Rossi menang untuk pertama kalinya sebagai seorang debutan. Kemenangan perdana Rossi berlanjut di GP Jacarepagua, Brazil dimana ia menang setelah menyalip pembalap tuan rumah, Alex Barros. 

Saat itu juara dunianya adalah Kenny Roberts JR yang mengendarai Suzuki RGV 500, sehabis balapan di Brazil' Rossi mendapat ganjaran berupa gelar sebagai Rookie of The Year dari FIM dan Dorna Sports. 

Setahun kemudian, barulah Valentino Rossi mendapat motor spek terbaru tepatnya pada tahun 2001 yang membawanya dalam pertarungan sengit melawan Max Biaggi guna memperebutkan gelar juara kelas 500cc terakhir. 

Pertarungan melawan The Roman Emperor berlangsung sengit bahkan hingga menjalar ke luar sirkuit. Pihak Honda yang membela Rossi ikut terseret juga dalam rivalitas dengan pihak Yamaha yang membela Biaggi.

Namun, sekeras apapun persaingannya' Rossi tetap diunggulkan bahkan akhirnya menjadi juara dunia kelas 500cc. Rossi menjuarai edisi terakhir kelas 500cc sebelum kejuaraan tersebut berganti era dari mesin 2 tak ke mesin 4 tak. Hebatnya lagi, status Rossi sebagai pembalap tim satelit dipertanyakan. 

Bagaimana mungkin ia mampu menjadi juara dunia meski ditempatkan sebagai pembalap tim satelit yang disponsor merek minuman keras macam Nastro Azzurro dibanding Repsol yang merupakan perusahaan minyak asal Spanyol. Jawabannya terletak pada sang kepala mekanik, Jeremy Burgess dan Mick Doohan selaku mentor/guru balapnya.

Tidak heran bahwa Rossi merupakan pembalap yang mendapat paket komplit, tidak hanya motornya yang baru' tapi juga mekaniknya yang paham selera balap sang pengendara. 

Rossi sukses menjadi juara dunia termuda di kelas 500cc saat usianya 22 tahun pada tahun 2001 dan keberhasilannya itu mengantarnya sebagai bintang dunia balap masa depan. 
Tim satelit yang ditempatinya lantas dikembalikan kepada Erv Kanemoto lantaran ada rencana dari HRC untuk menguji ban Bridgestone. 

Rossi pun promosi ke tim pabrikan atau Repsol Honda mendampingi Tohru Ukawa sekaligus menggantikan Alex Criville dari Spanyol yang pensiun dari dunia balap karena masalah kebugaran fisiknya dan faktor usia yang semakin tua. 

*****

Romantika Valentino Rossi Bersama Tim Satelit Bikinan Mick Doohan & Jeremy Burgess (Part 01)


Tahun ini Valentino Rossi akan kembali berlaga sebagai pembalap tim satelit, mengingat posisinya sudah diganti oleh pembalap muda asal Perancis, Fabio Quartararo. 

Bagi Valentino Rossi, tim satelit bukan hal asing dalam catatan karirnya. Justru tim satelit merupakan sebuah batu loncatan menuju kesuksesan yang lebih besar di masa mendatang. 

Karir Valentino Rossi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan di paddock tim satelit, sejak awal karir pula Rossi selalu berada di garasi tim satelit. Anehnya, karir Valentino Rossi berjalan cukup mulus karena mendapat dukungan politik dari sponsor-sponsor yang biayanya tidak main-main. 

Nastro Azzuro misalnya, merek minuman beralkohol dari Italia buatan perusahaan Pironi Brewery ini pernah mendonorkan dana yang banyak untuk Valentino Rossi. Dana yang diberikan Nastro Azzurro kepada Rossi tidak terbuang sia-sia karena hasilnya selalu positif. 

Rossi menjadi juara dunia kelas 125cc pada tahun 1997 berkat Nastro Azzurro sebagai penyandang dananya sekaligus sponsor utama di tim Aprilia. Meski status Rossi sebagai pembalap tim satelit Scuderia Carrizosa milik Giampiero Sacchi, namun motor yang dikendarai Rossi merupakan spek terbaru sehingga dengan mudahnya Rossi menyabet 11 kemenangan dan 2 podium saat usianya masih 18 tahun. 

Kesuksesan Rossi berlanjut di kelas 250cc dimana Rossi menduduki posisi sebagai Runner-Up dibawah juara dunia 250cc kala itu, Loris Capirossi. Rossi saat itu langsung ditempatkan sebagai pembalap tim pabrikan namun berbeda sponsor. 

Meski menjadi rekan satu tim Loris Capirossi dan Tetsuya Harada, rupanya Rossi malah menjadi dejavu saat itu. Rossi saat itu dituduh membantu Loris Capirossi menggagalkan usaha Tetsuya Harada menjadi juara dunia. Alhasil, Loris Capirossi yang sudah menjadi juara dunia malah batal naik kelas gara-gara insiden dengan Tetsuya Harada.

Tetsuya Harada justru bertahan di Aprilia sebagai pembalap kelas 500cc, sedangkan Capirossi malah didupak ke tim Honda Gresini yang baru saja turun kelas pasca ditinggal Alex Barros yang malah pindah ke Honda Pons guna menjadi tandem Juan Bautista Borja.

Valentino Rossi otomatis menjadi pembalap tunggal di tim pabrikan Aprilia karena kedua pesaingnya sama-sama disingkirkan. Bedanya, Tetsuya Harada dipromosikan sebagai pembalap tim kelas 500cc menggantikan Doriano Romboni yang pensiun. 

Loris Capirossi diberi pintu keluar untuk cari tim baru pasca ribut dengan Tetsuya Harada gara-gara tudingan dibantu Valentino Rossi. Meski hubungan antara Harada dengan Capirossi merenggang, namun hubungan dengan Rossi malah akrab setelah Rossi mengatakan hal yang sejujurnya bahwa dirinya tidak membantu Capirex merebut gelar juara yang telah lama di-incar Harada.

Rossi yang cuma jadi pembalap tunggal berhasil merengkuh gelar juara dunia kelas 250cc setelah bersaing melawan Capirossi yang mengendarai Honda NSR 250. Gelar juara yang digapai Rossi membuatnya dilirik oleh Honda untuk menggantikan Mick Doohan di tim pabrikan HRC. 

Namun, akibat tekanan dari sponsor utama' Repsol maka posisi Rossi di tim Honda hanya sebatas pembalap tim satelit. Mick Doohan ditunjuk HRC sebagai mentornya, sedangkan Jeremy Burgess akhirnya menjadi kepala mekanik bagi Rossi. 

Kemudian Mick Doohan minta izin kepada Erv Kanemoto untuk menggunakan fasilitas tim-nya untuk membantu Valentino Rossi beradaptasi di kelas 500cc. Erv Kanemoto sepakat untuk membantu Doohan yang notabene adalah mantan pembalapnya dahulu. 

Keakraban Erv Kanemoto dengan Mick Doohan semasa aktif di dunia balap membuat Valentino Rossi diperlakukan spesial. Seluruh kru balap di tim Repsol hengkang lalu membela tim yang dipinjam Mick Doohan dari Erv Kanemoto. 

Didukung merek minuman Nastro Azzurro sebagai sponsor utama, maka Valentino Rossi & Mick Doohan membentuk tim balap satelit yang kelak menjadi cikal bakal VR46 Academy' yaitu Nastro Azzurro Honda Team HRC.

*****


Rabu, 30 Desember 2020

Nestapa Karir Alberto Puig, Guru Balap Dani Pedrosa (Part 04/END)


Tahun 1995 merupakan tahun bersejarah dan menyedihkan bagi Alberto Puig, dimana pada tahun itu ia menjadi salah satu jagoan utama di kelas 500cc. Bagaimana tidak ? Puig rupanya mendapat hak istimewa dari HRC berupa satu unit mesin Honda NSR 500 V4 spek pabrikan. 

Ia dipercaya sebagai rival Alex Criville dan Mick Doohan dalam perebutan gelar juara dunia musim 1995. Saat itu HRC resmi mendatangkan sponsor baru, Repsol sebagai judul tim baru yang sampai hari ini masih bertahan akan supremasinya. 

Repsol mendapat untung besar karena HRC mengontraknya dengan nilai yang cukup tinggi, Pons Racing yang sudah terlebih dahulu mengongtrak perusahaan minyak itu sejak tahun 1993 lalu juga ketiban pulung berkat Alex Criville yang menjadi satu-satunya pembalap Spanyol dengan penampilan kompetitif.

Keberhasilan kerjasama antara Repsol dengan HRC menjadi sebuah mimpi buruk di kemudian hari dimana pembalap-pembalap asal Spanyol seolah mendapat tempat khusus jika bergabung dengan tim pabrikan HRC. 

Menurut kabar, kontrak Alberto Puig akan habis tahun 1996 dan bisa dipastikan Alberto Puig akan promosi ke tim pabrikan Honda seiring tekanan dari pihak Repsol yang ngotot mempromosikan pembalap-pembalap asal negeri matador tersebut.

Banyak orang yang memprediksi bahwa posisi Alberto Puig akan mulus diduduki ketika ada seorang pembalap yang kontraknya akan habis di tim pabrikan, siapa lagi kalau bukan Shinichi Itoh dari Jepang. 

Habis kontraknya Shinichi Itoh mendorong Repsol Honda HRC untuk segera mempersiapkan calon rekan Alex Criville dan Mick Doohan di kubu pabrikan dengan Alberto Puig sebagai kandidatnya. 

HRC memberi syarat untuk Pons Racing kalau Alberto Puig mau gantikan Shinichi Itoh di Repsol Honda, yakni memperoleh 1 kemenangan dan beberapa podium saja untuk meyakinkan apakah Puig layak jadi rekan satu tim Criville. 

Syarat itu pun terpenuhi, Alberto Puig pun menjadi prioritas Honda meski ditempati di tim satelit. Ketika GP 500 musim 1995 bergulir, Alberto Puig tampil bagus sehingga mampu berjejer di Top 10 dalam sesi free practice dan kualifikasi. 

Di GP Eastern Creek, Australia' Alberto Puig finish di posisi 7 dan di GP Shah Alam, Malaysia ia finish di posisi 5. Begitu pun ketikan di GP Suzuka, Jepang' ia lagi-lagi menduduki posisi 5 untuk kedua kalinya.

Tibalah saatnya Alberto Puig berlaga di GP Spanyol, tepatnya di sirkuit Jerez De La Frontera di hadapan para fans dari seluruh negeri. Banyak penonton seantero tanah Spanyol berduyun-duyun menyaksikan event balap motor akbar dunia. 

Alberto Puig mengaku grogi dan sempat diremehkan oleh media-media massa karena ia cuma berstatus pembalap tim satelit meski memakai mesin spek pabrikan murni. Penonton lebih menjagokan Alex Criville sebagai bintang utama lantaran menjadi lawan dekat Mick Doohan yang berstatus sebagai juara bertahan.

Balapan dimulai, Alex Criville menekan Mick Doohan berkat dukungan dari penonton yang datang langsung ke Jerez dengan membawa spanduk bernada pembakar semangat. Ditambah waktu itu Repsol berharap bisa mencetak kemenangan perdana bersama pembalap asli Spanyol. Repsol sendiri megaku belum puas kalau cuma Doohan saja yang menang balapan, pembalap asli Spanyol juga dijagokan bisa menyamai sang juara dunia. 

Na'as Bagi Mick Doohan, ia terjatuh dan gagal melanjutkan balapan sehingga pertarungan di lini depan tinggal menyisakan Alberto Puig dan Alex Criville. Disini Puig menjadi kuda hitam dimana bakat alami yang dimilikinya menjadi senjata andalan guna memberi perlawanan terhadap Criville selaku pembalap tim pabrikan resmi. 

Criville membuat keteledoran, ia berhasil disalip dan Puig menjadi pemimpin jalannya balapan hingga lap terakhir. Alberto Puig keluar sebagai pemenang balapan di sirkuit Jerez sekaligus menyumbang kemenangan kedua bagi tim Pons Racing. 

Dihadapan penonton Puig mengibarkan bendera spanyol untuk pertama kalinya di kelas utama sebagai pemenang, bukan sebagai pencetak podium. Alberto Puig mendapat banyak apresisasi dari wartawan dan fotografer yang memotret momen heroik tersebut. 

Puig menjadi pujaan baru rakyat Spanyol dan digadang-gadang mampu tembus tim pabrikan menemani Alex Criville' atas alasan nasionalisme dan bisnis itulah yang menguntungkan bagi Repsol sebagai sponsor utama tim resmi. 

Sayangnya kejayaan Alberto Puig di dunia balap tidak berlangsung lama, seusai meraih podium di GP Assen. Puig mengalami kecelakaan di sirkuit Le Mans sehingga patah tulang kakinya' kondisi ini membuat Alberto tidak bisa lagi berjalan kaki bahkan nyaris lumpuh total. 

Posisi Alberto Puig lantas diganti Carlos Checa yang semula membalap di tim junior kelas 250cc. Alhasil, motor milik Puig dipakai Checa dan ia memang di GP Catalunya setahun kemudian pada tahun 1996. 

Musim 1995 diakhiri lebih awal akibat lamanya proses penyembuhan patah tulang kaki, akhirnya Puig baru menjalani tes motor pada bulan Februari 1996. Namun, performa Alberto Puig tidak sehebat dulu lantaran kondisi kakinya agak pincang bahkan sempat mengeluhkan sakit yang kambuh diwaktu-waktu tertentu. 

Musim lalu Alberto Puig hanya mengoleksi 99 poin dan bertengger di posisi ke 8 klasemen akhir. Kepiluan yang dialami Puig berlanjut di musim sebelumnya dimana ia tidak bisa lagi bersaing di barisan depan. Bahkan motor NSR 500 spek 1995 yang setahun lebih tua dari motor milik Luca Cadalora yang dapat jatah motor spek 1994 ternyata tidak mampu memberi perlawanan berarti.
 
Sepanjang musim 1996, Alberto Puig cuma meraih satu kali naik podium di GP Perancis yang diselenggarakan di sirkuit Paul Ricard. Waktu itu ia berhasil mengalahkan Norick Abe guna merengkuh podium ketiga. Sedangkan pertarungan sengit antara Mick Doohan melawan Alex Criville masih terjadi.
 
Puig bertengger di posisi 11 klasemen dengan koleksi 93 poin, prestasinya lebih buruk karena berada di luar 10 besar. Maka keberadaannya di tim Honda Pons sudah tiada artinya lagi karena pihak tim lebih fokus mengurus Carlos Checa yang kala itu masih segar bugar dan lebih muda.
 
Memasuki musim 1997, Alberto Puig mulai merasa tidak sanggup lagi bersaing' apalagi saat itu ia baru saja merayakan ulang tahun yang ke 30. Seperti sudah dirasakan, bahwa memang sudah sepatutnya ia pensiun dari dunia balap dan mengubur mimpinya untuk menjadi pembalap tim pabrikan mendampingi Alex Criville.
 
Mick Doohan berjaya dengan mencetak 12 kemenangan secara keseluruhan dan yang paling memburamkan pandangan adalah absennya Alex Criville selama 4 seri akibat cedera patah jari di sesi kualifikasi GP Assen, Belanda. Maka pada waktu itu publik Spanyol mulai kehilangan gairah setelah jagoan-jagoannya sudah tidak berkutik. 
 
Carlos Checa saja yang jadi andalan malah kerap melakukan blunder dan kerap juga gagal meraih kemenangan akibat kalah bersaing dengan Tadayuki Okada, rekan se-tim Mick Doohan dan Nobuatsu Aoki dari Jepang, pendatang baru yang memakai motor NSR 500 spek 1996. Alberto Puig yang sudah memasuki senjakala karir cuma bisa bertengger di posisi 12 klasemen dengan mengoleksi 63 poin.

Seusai GP Australia di sirkuit Philip Island, Alberto Puig resmi pensiun di usia 30 tahun pada saat usianya masih cukup muda untuk mengarungi sisa-sisa karirnya. Apalagi waktu itu ia juga sudah lelah memikirkan mimpi-mimpinya yang belum sempat terwujud.

Setelah gantung helm, Alberto Puig ditunjuk oleh DORNA Sports untuk menjadi pemandu bakat pembalap muda yang disponsori oleh perusahaan telekomunikasi Telefonica Movistar. Alberto Puig diberi wewenang oleh DORNA Sports untuk mencari calon pembalap baru yang akan dipersiapkan sebagai bintang balap motor dunia. 

Tahun 1998, Puig memulai hidup baru sebagai pembina pembalap usia muda sehingga ditemukanlah 3 orang remaja yang kelak muncul sebagai aktor penting dibalik kehebatan MotoGP. Para anak remaja itu adalah Dani Pedrosa, Toni Elias dan Alvaro Bautista, namun Puig lebih memilih Dani Pedrosa ketimbang Toni Elias dan Alvaro Bautista.

Dani Pedrosa akhirnya dengan mulus melenggang ke MotoGP sejak kelas 125cc, dibawah bimbingan Alberto Puig' Pedrosa jadi juara dunia pada tahun 2003 untuk kategori kelas 125cc dan juara lagi 2 kali pada tahun 2004-2005 untuk kategori kelas 250cc.

Sukses membesut Dani Pedrosa, akhirnya Puig berhasil mengantarkan bocah asal Sabadell, Catalunya itu mengaspal di kelas MotoGP pada tahun 2006 silam.

*****


Kamis, 10 Desember 2020

Nestapa Karir Alberto Puig, Guru Balap Dani Pedrosa (Part 03)


Akhir musim 1993, Alberto Puig langsung teken kontrak 4 tahun untuk berlaga di kelas 500cc dengan mengendarai motor Honda NSR 500 spek tahun sebelumnya. Puig mengendarai motor bekas milik Alex Criville dengan memakai nomor balap 17. 

Tidak hanya suasana baru yang didapat, Puig juga mulai dikelilingi banyak penggemar setidaknya ia sangat dijagokan untuk memenangkan balapan di musim perdananya di kelas 500cc. Motor warna putih bermerek rokok Ducados terpampang amat gagah menghiasi koran-koran lokal di Spanyol. 

Ducados membayar cukup mahal kepada HRC agar Alberto Puig diberi layanan istimewa layaknya Alex Criville di tim pabrikan. Bukan tidak mungkin, Alberto Puig akan menjadi fenomena yang meluluh lantahkan seluruh dunia dengan aksi heroiknya sebagai pembalap jagoan masyarakat Spanyol. 

Musim 1994 merupakan pembuktian bahwa dirinya layak meraih gelar rookie terbaik, di GP Jerman ia meraih podium perdananya di kelas utama. Konsistensinya sebagai pembalap membuatnya dibanjiri dukungan dari berbagai kalangan. 

Klasemen akhir menunjukkan bahwa Puig telah mengantongi 152 poin dan bertengger di posisi 5 klasemen sehingga membawanya terpilih sebagai rookie terbaik. Alberto Puig telah meraih sukses sebagai pembalap kelas dunia yang mulai digandrungi anak muda se antero Spanyol. 

Kesuksesan Puig tidak lepas dari peranan sponsor pribadinya, Ducados dan Repsol yang kala itu sedang menjejaki kesepakatan untuk menjadi sponsor utama tim Honda HRC. Bahkan Alberto Puig di-isukan akan bergabung dengan Alex Criville di tim pabrikan menggantikan juara dunia saat itu, Mick Doohan.

Namun, Puig membantah keras dirinya akan menggantikan Mick Doohan sebagai rekan tandem Criville. Lewat pernyataan di media televisi, Alberto Puig tidak bisa menggeser posisi Mick Doohan yang waktu itu begitu superior. 

Alberto Puig juga kurang yakin akan mampu menghabisi Alex Criville yang merupakan anak emas Repsol. Repsol memang lebih condong membela Criville dibanding Puig meski sama-sama disponsori karirnya oleh perusahaan minyak milik negara itu. 

Kabar tidak bagus datang saat Ducados mundur dari keikutsertaannya sebagai sponsor di MotoGP lantaran kontraknya dengan Alberto Puig sudah habis. Rokok Ducados sudah menyeponsori Puig sejak tahun 1988 dan kini saatnya kemitraan dengan merek tembakau hisap itu berakhir di awal tahun 1995. 

Namun, tidak lama kemudian datang sponsor baru yaitu Fortuna yang merupakan merek rokok nomor satu di Spanyol sebagai sponsor utama tim Pons Racing. Sejak saat itu nama tim berubah menjadi Fortuna Honda Pons. 

*****


Nestapa Karir Alberto Puig, Guru Balap Dani Pedrosa (Part 02)


Masih bersama Yamaha antara tahun 1990-1991, Puig mencatatkan poin di klasemen dan bertengger di posisi 16 dua kali berturut-turur tanpa mempersembahkan podium dan kemenangan.
Karena merasa tidak puas dengan Yamaha, ia memutuskan untuk mengganti mesin dari Yamaha ke Aprilia untuk musim 1992. 

Bermodalkan motor Aprilia RSV 250, ia justru tampil kompetitif dan berhasil menembus 10 besar klasemen dengan bertengger di posisi 6. Jumlah nilai yang dikumpulkan sebanyak 71 poin' secara gamblang Alberto Puig menjadi salah satu pembalap papan tengah yang potensial. 

Di tahun itu pula ia berhasil menyabet podium 3 untuk pertama kalinya di GP Hungaria' ini merupakan impian Puig sejak lama. Kesuksesan Alberto Puig merebut podium membuat HRC kepincut memulangkannya dengan berstatus pembalap satelit di tim balap milik mantan rivalnya, Sito Pons. Kepulangan Alberto Puig ke HRC berbuah perjanjian khusus mengenai statusnya di kejuaraan dunia. 

Tahun 1993 ia didaulat sebagai pembalap tim Honda Pons, sponsor pribadinya rokok Ducados ikut bersamanya. Alberto Puig diberi reward jika berhasil menembus 10 besar lagi, yaitu lolos ke tingkat yang lebih tinggi' sudah pasti naik kelas ke 500cc bersama tim yang sama. 

Kesempatan Alberto Puig untuk menjajal motor Honda NSR 500 semakin terbuka lebar setelah Alex Criville dipromosikan sebagai pembalap pabrikan Honda HRC menggantikan Daryl Beattie.

Alex Criville sudah dua tahun menggeber motor Honda NSR 500 di tim satelit, karena sudah mapan dalam menguasai motornya' HRC mempromosikannya ke tim utama untuk bersaing merebut gelar juara dunia bersama Mick Doohan dan Shinichi Itoh. 

Di musim terakhirnya membalap di kelas 250cc ia mengoleksi 2 podium masing-masing di GP Eropa dan GP Ceko sehingga berhasil menduduki posisi ke 9 klasemen akhir. Sito Pons yang menjadi manager Alberto Puig mengakui kagum dengan etos kerja mantan rivalnya itu. 

Ditambah pemberitaan media massa yang gencar di zaman itu membuat Alberto Puig digadang-gadang bisa mengharumkan nama bangsa di kancah balap motor dunia. Bahkan menjadi salah satu calon juara dunia di kelas 500cc selain Alex Criville yang sudah terlebih dahulu paham dengan peta persaingan di level tertinggi kejuaraan MotoGP.

Promosinya Alberto Puig menuju kelas 500cc diikuti pula sponsor pribadinya' Ducados sehingga merek rokok tersebut menjadi sponsor utama yang menghiasi frame motor Honda NSR 500.

*****





Nestapa Karir Alberto Puig, Guru Balap Dani Pedrosa (Part 01)


Alberto Puig kini duduk manis di atas kursi kekuasaan sebagai team principal Repsol Honda dimana ada pembalap paling bertalenta dan dominan saat ini, Marc Marquez. Namun, sebelum menduduki jabatan basah di Repsol Honda, ia merupakan seorang pembalap yang hebat dan bernyali tinggi. 

Kehebatan Alberto Puig sebagai pembalap tercium saat ia mengikuti kejurnas CEV Kelas 250cc, ia merupakan rival terdekat Ricard Cardus, Sito Pons dan Juan Garriga. Semua bermula di era 80an saat dirinya masih remaja dan memiliki koneksi dengan Repsol. 

Repsol memberi jaminan kepada Puig agar bisa tampil maksimal di kejurnas sehingga membuatnya menjadi salah satu kompetitor tangguh. Meski tidak pernah juara, namun Puig masih bisa berbicara banyak di depan publik. Sebagai tambahan, hubungan antara Alberto Puig dengan Honda semakin mengokohkannya sebagai pembalap paling bernyali besar, 

Dia bercita-cita menjadi pembalap kelas dunia dan bisa menyusul rival-rivalnya yang sudah Go International. Saat itu Sito Pons sedang jaya-jayanya menjadi juara dunia pada tahun 1988, Alberto Puig yang sudah menjalani masa magang sebagai pembalap wildcard akhirnya dikukuhkan sebagai pembalap permanen setelah diguyur uang sponsor dari rokok Ducados. 

Saat merintis karir di MotoGP kelas 250cc, Alberto Puig bergabung dengan tim balap milik Angel Nieto yang motornya disuplai dari HRC. Meski hasilnya tidak seberapa untuk ukuran seorang rookie, Alberto Puig sukses mengumpulkan 10 poin dari 2 balapan diantara 8 balapan yang dilaluinya. 

Alasan kenapa Puig cuma tampil 8 kali balapan di musim penuhnya sebagai pembalap, karena waktu itu Puig harus berjibaku dalam perebutan gelar kejurnas kelas 250cc yang menyebabkan dirinya lebih sering menetap di Spanyol dibanding ikut membalap di MotoGP. 

Mengoleksi 10 poin membuat Puig bertengger di posisi 30 klasemen akhir, Dikemudian hari ia keluar dari tim balap milik Angel Nieto dan membentuk tim sendiri. Saat itu ia putus kontrak dengan HRC dan berpindah ke Yamaha pada tahun 1989. 

Di sirkuit yang sama dan kejuaraan yang sama, Puig bertarung sengit dengan Sito Pons yang kala itu berstatus juara dunia kelas 250cc bersama Honda. 
Celakanya, Puig yang membalap dengan motor Yamaha TZ 250 yang kurang kompetitif membuat waktunya terbuang sia-sia.

Performa motor Yamaha TZ 250 yang kurang menjanjikan berdampak pada prestasinya di atas aspal, meski begitu ia berhasil memperbaiki posisinya di klasemen. Tampil sebagai pembalap yang masih muda dan penuh semangat juang tinggi' Puig bertengger di posisi 28 klasemen akhir dengan koleksi 18 poin (Lebih Bagus Dari Musim Sebelumnya).

*****


Jumat, 27 November 2020

Norifumi Abe, Pembalap 500cc Remaja era 90an yang Melegenda (Part 02)

 
 
 
Norifumi Abe berduet dengan Luca Cadalora untuk musim 1995, kali ini tantangan berat harus dijalaninya sebagai pembalap muda yang minim pengalaman balap internasional. Satu hal yang membuat Abe dikagumi banyak orang adalah semangat pantang menyerahnya yang berkobar. 

Norifumi Abe menjalani debut internasional secara full time di sirkuit Eastern Creek dengan merebut pole position sekaligus menjadi pembalap termuda yang menyabet pole position di usia 19 tahun.

Namun, saat balapan dia cuma bisa finish di posisi 9 sebagai awalanya' meski cukup impresif di sesi kualifikasi, Abe mengakui dirinya belum mampu menunjukkan kehebatannya sebagai pembalap muda yang berbakat. 

Sepanjang musim 1995, Norifumi Abe cuma sebatas pembalap nomor dua yang bisa finish di Top 10 untuk menambah poin konstruktor. Dan ia juga pernah mengalami gagal finish 3 kali dalam semusim akibat kecelakaan dan gangguan mesin.

Balapan di sirkuit Jacarepague menjadi momen spesial dan baru karena disinilah Abe menampilkan konsistensinya sebagai pembalap pendatang baru yang masih se
 
Podium 3 ia raih saat balapan di Brazil yakni di sirkuit Jacarepague dimana ia meraih podium untuk pertama kalinya dalam sejarah. Norifumi Abe berhasil menggondol penghargaan dari FIM sebagai rookie of the year. 
 
Dan disaat yang sama rekan setimnya, Luca Cadalora hengkang dari Yamaha lantaran kontraknya sudah habis sejak direkrut pada tahun 1993 silam. Abe akhirnya bekerja sendiri melakukan tes akhir musim dengan prototipe motor YZR 500 tahun 1996. 
 
Menjelang bergulirnya musim 1996, Norifumi Abe mendapat 3 rekan baru yaitu mantan pembalap motorcross asal Perancis, Jean Michel Bayle. Disusul juara dunia kelas 125cc 2 kali asal Italia, Loris Capirossi dan Kenny Roberts JR dari Amerika Serikat yang merupakan putra manager tim Yamaha pabrikan sendiri, Kenny Roberts Senior.
 
Yamaha mencoba bereksperimen dengan mengorbitkan pembalap-pembalap muda yang masih trengginas dan penuh potensi demi menumbangkan kedigdayaan Honda.
 
*****

Norifumi Abe, Pembalap 500cc Remaja era 90an yang Melegenda (Part 01)

Foto : Norifumi Abe, Team Blue Fox Honda

Sejarah mencatat bahwa Norifumi Abe adalah pembalap termuda yang pernah debut sebagai wildcard sekaligus full time rider di kelas 500cc.

Saat membalap di kelas 500cc untuk pertama kali, Norifumi Abe masih berusia 17 Tahun tepatnya di kejuaraan balap motor nasional All Japan Road Racing Championship musim 1992. Di usianya yang terhitung belia itu ia dipercaya menjadi pembalap kelas premier di kejurnas. 

Kelas 500cc yang dipertandingkan merupakan kelas untuk para pembalap yang menjabat sebagai test rider di pabrikan resmi masing-masing. Diantara pembalap yang berkompetisi di kelas 500cc All Japan Road Racing Championship ada pembalap yang sudah mencicipi kejuaraan dunia seperti Shinichi Itoh dari Honda HRC dan Norihiko Fujiwara dari Yamaha yang sempat dikontrak Team Roberts untuk seri Suzuka. 

Sebetulnya Abe bukanlah pembalap yang dijagokan sebagai juara, namun berkat keuletan tim dan kru mekanik yang handal membuatnya menyabet gelar juara kelas 500cc pada tahun 1993. Sebagai hadiah, ia mendapat tiket untuk berkompetisi di kejuaraan 500cc dunia musim depan di sirkuit Suzuka.

Menjelang persiapan balapan di Suzuka, Abe menggaet sponsor baru yaitu Mister Donut karena kontraknya dengan SEGA sudah habis akhir tahun lalu.  Balapan di Suzuka terasa spesial karena dia adalah pembalap wildcard termuda yang pernah berkompetisi di kelas tertinggi balap motor 2 tak level internasional.

Saat balapan Abe bertarung sengit dengan Mick Doohan dan Kevin Schwantz yang kala itu sedang jadi bintang balap kondang. Bedanya, Norifumi Abe memakai ban Dunlop yang nyata-nyata tidak kompetitif seperti ban Michelin. 

Namanya juga pelajaran sudah pasti ada kegagalan, Abe tersungkur dan menjadi pusat perhatian media massa karena keberaniannya menghadapi kedigdayaan pembalap kawakan seperti Mick Doohan yang berstatus calon juara dunia kala itu.

Tidak butuh waktu lama, Abe dikontak oleh Wayne Rainey dan diberi dukungan untuk tetap semangat meski gagal mengalahkan Mick Doohan. Wayne Rainey mengajak Abe gabung ke Yamaha Team Roberts' kesempatan itu tidak disia-siakan karena bisa bergabung menjadi pembalap tim pabrikan. 

Sebagai pembalap tim independen, Abe boleh saja keluar dari zona nyaman dimana Honda merupakan pabrikan terkuat saat itu. Yamaha adalah pelabuhan baru sekaligus yang terakhir baginya karena potensinya menjadi bintang balap tidak dihiraukan oleh Honda. 

Yamaha beruntung bisa merekrut Abe sekaligus mempersiapkan pengganti Daryl Beattie yang penampilannya melempem dan tidak bisa menyamai Luca Cadalora. Yamaha jelas tidak hanya mengandalkan Luca Cadalora sebagai tulang punggung tim, kehadiran Norifumi Abe di Yamaha memberi warna tersendiri bagi jagat balap motor. 

Abe tampil sebagai wildcard lagi di sirkuit Donington Park, sirkuit Brno dan sirkuit Laguna Seca. Alhasil Norifumi Abe mencetak 20 poin karena selalu finish di posisi 6 dalam dua balapan dimana sisanya tidak finish.

Desember 1994, Norifumi Abe disahkan sebagai pembalap pabrikan Yamaha menggantikan posisi Daryl Beattie yang hengkang ke Suzuki menemani Kevin Schwantz. Duet antara Norifumi Abe dan Luca Cadalora merupakan duet kombinasi pembalap muda dan pembalap tua yang berpengalaman juga solid.


*****

 

 

Kamis, 05 November 2020

Scuderia Carrizosa, Tim Balap Yang Membawa Valentino Rossi Juara Kelas 125cc (Part 02/END)


Roda motor balap ikut berputar dengan roda nasib, Valentino Rossi seusai memenangkan balapan di sirkuit Brno, Republik Ceko akhirnya mulai merasakan sesuatu yang tidak beres pada motornya. 

Beberapa kali ikut free practice dan kualifikasi, dia selalu terjatuh dan tidak jarang hampir mencelakai pembalap lain. Hal ini dikarenakan Rossi sudah tidak berpegang teguh pada kualitas motornya yang merupakan motor spek lawas. 

Aprilia belum bisa memberikan motor baru untuk Rossi karena sesuai janji, motor spek terbaru hanya akan diberikan untuknya setahun kemudian. Dengan catatan, Rossi harus menempati posisi 10 besar klasemen dan wajib memperoleh gelar rookie of the year. 

Di San Marino Grand Prix, tepatnya di sirkuit Imola yang jaraknya lumayan dekat dengan Urbino' kota kelahirannya, Valentino Rossi harus puas menempati posisi 5 mengingat motor yang dipakai Rossi mulai melambat dan kurang kompetitif. 

Puncaknya terjadi saat balapan di European Grand Prix, tepatnya di sirkuit Catalunya' saat balapan baru dimulai Rossi mengalami kecelakaan di tikungan pertama yang membuatnya harus gagal meraih poin penting. 

Berikutnya lagi yang lebih parah saat balapan di Brazilian Grand Prix, sirkuit Jacarepagua menjadi saksi keteledoran Valentino Rossi saat hendak menyalip di tikungan malah membuat pembalap lain ikut tergusur ke gravel sirkuit. 

Sudah dua kali Rossi tidak dapat poin dan posisinya di klasemen terancam, Giampiero Sacchi takut bila Valentino Rossi gagal mempertahankan konsistensinya demi merebut gelar rookie of the year untuk kategori kelas 125cc.

Untungnya di sirkuit Eastern Creek, Australia' dalam tajuk Australian Grand Prix akhirnya Rossi mampu meraup poin untuk memperkokoh posisinya di zona 10 besar. Dia finish di posisi 14 yang membuatnya cuma diberi 2 poin. 

Setelah musim 1996 usai, Valentino Rossi mengevaluasi kembali kesalahan-kesalahan saat membalap selama semusim penuh. Dia mengakui belum bisa memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara. 

Dan sesuai janji, Valentino Rossi akhirnya dipersilahkan untuk mengetes motor spek tahun 1997 sehabis balapan di Eastern Creek. Motor spek terbaru ini dipercaya membuat Rossi menjadi pembalap yang tidak terkalahkan dan tangguh. 

Di tahun yang sama, rekan satu tim Valentino Rossi' Luca Boscoscuro hengkang untuk mencari tim balap yang baru meski masih berlaga di kelas 250cc untuk musim selanjutnya. 
Rossi akhirnya mendapat sponsor baru yaitu merek minuman beralkohol "Nastro Azzurro" dari rekan satu tim barunya yang juga sesama pembalap Italia, Stefano Perugini. 

Nama tim Scuderia Carrizosa diganti menjadi Nastro Azzurro Aprilia, motor balapnya yang semula berwarna biru hijau hitam lalu berganti menjadi warna ungu merah perak. Konon, warna merah dan perak adalah warna identitas tim Aprilia. 

Bisa dibilang status Valentino Rossi naik dari pembalap tim satelit menjadi pembalap tim pabrikan. Rasa percaya diri mulai timbul lantaran inilah saatnya bagi Rossi untuk menjadi juara dunia setelah management tim Aprilia Grand Prix Racing melantiknya sebagai pembalap pabrikan murni meski dibawah management tim independen.

Musim 1997 merupakan musim balap yang sangat bergairah dan penuh kebahagiaan bagi kubu tim Nastro Azzurro Aprilia. Rossi menyabet kemenangan perdananya di GP Malaysia setelah menyalip Kazuto Sakata di tikungan terakhir. 

Namun, semua berubah saat balapan di GP Jepang, Valentino Rossi yang sudah siap memenangkan balapan di Sirkuit Suzuka malah terpelanting di tikungan terakhir. Ia gagal menang dan hanya bisa menyesali kegagalannya. 

Tidak lama berselang ia menang di GP Spanyol & GP Italia, secara keseluruhan Rossi mengantongi 3 kemenangan di awal musim. Namun, perlawanan sengit baru terjadi saat balapan di GP Austria. Noboru Ueda yang membalap untuk tim Honda Pileri berhasil mempecundangi Valentino Rossi hanya dengan disalip lewat lurus. 

Di seri-seri berikutnya, Rossi membabat habis 6 kemenangan beruntun yang membuatnya mencetak rekor sebagai pembalap termuda yang menang beruntun di kelas 125cc. Superioritas Valentino Rossi tidak lepas dari peranan tambahan dari tim pabrikan Aprilia yang konsisten memberinya settingan terbaik untuk motornya. 

Dan saat balap di GP Ceko inilah Rossi dinobatkan sebagai juara dunia kelas 125cc meski harus puas menempati podium 3. Perayaan juara dunia Valentino Rossi dilakukan dengan menggendong angka 1 raksasa sebagai tanda bahwa ia adalah juara dunia. 

Perayaan ini sangat ikonik dan paling berkesan bagi Valentino Rossi, luar biasanya lagi Rossi mendapat tiket untuk naik kelas tahun depan. Setelah perayaan gelar juara dunia itu Valentino Rossi lagi-lagi dominan dengan mencetak 2 kemenangan di sirkuit Catalunya, Spanyol dan sirkuit Sentul, Indonesia. 

Dan ketika melakoni balapan terakhir di sirkuit Philip Island, Rossi hanya bertengger di posisi 6 dan itu sudah cukup untuk menambah poin. Scuderia Carrizosa sukses membuat Rossi jadi kampiun di kelas pemula. 

Rossi akhirnya bisa naik kelas pada tahun 1998, dengan kembali membesut motor Aprilia karena ini bagian dari program pembibitan pembalap unggul yang akan menjadi bintang masa depan di MotoGP.

(Selesai)


Scuderia Carrizosa, Tim Balap Yang Membawa Valentino Rossi Juara Kelas 125cc (Part 01)


Pada tahun 1996, Valentino Rossi berlaga untuk pertama kalinya di kejuaraan dunia MotoGP untuk kategori kelas 125cc. Seusai menjuarai kelas 125cc di level balap nasional, Rossi langsung ngebut bersama tim Aprilia. Namun, sebagai pembalap rookie dia harus ditampung dulu di tim satelit' kebetulan tim itu dimanageri oleh Giampiero Sacchi, promotor handal yang jago mendatangkan sponsor. 

Mengenai Giampiero Sacchi, dia merupakan sosok manager yang reputasinya sangat ciamik dan memberikan tuah keberuntungan bagi para pembalapnya. Tidak sedikit pembalap yang menyewa jasanya sebagai manager untuk memperoleh "Dukungan Politik" berupa sponsor dan mesin motor balap spek terbaru bagi pembalap yang mengangkatnya sebagai manager. 

Banyak pembalap yang sukses menjadi juara dunia atau setidaknya menjadi runner up di kelasnya masing-masing. Mulai dari Alm. Angel Nieto yang sukses menjuarai kelas 125cc di musim terakhirnya pada tahun 1984, Loris Capirossi yang sukses menjuarai kelas 125cc dua kali berturut-turut antara tahun 1990-1991 dan tentu Max Biaggi yang sukses menjuarai kelas 250cc pada tahun 1994-1995. 

Tahun 1996, Giampiero Sacchi dipercaya mengasuh dan membimbing Valentino Rossi remaja yang kala itu baru berusia 17 tahun. Sebetulnya di tim Aprilia sendiri Giampiero Sacchi masih punya kontrak dengan Max Biaggi yang kala itu masih berjaya dan menjadi pembalap terkuat di kelas 250cc. Namun, atas permintaan management dan direktur utama tim Aprilia Grand Prix Racing' Giampiero Sacchi ditarik turun menemani Valentino Rossi yang belum pernah merasakan balapan motor diluar benua eropa. 

Di level kejuaraan eropa pada tahun 1995 lalu,Valentino Rossi yang masih dimanageri oleh Claudio Lusuardi memang tidak juara' tapi mampu mengumpulkan poin yang cukup banyak sehingga berhasil memperoleh FIM Riding License untuk bisa berlaga di MotoGP. 

Selepas dimanageri oleh Claudio Lusuardi, Valentino Rossi diserahkan kepada Giampiero Sacchi yang kebetulan waktu itu punya tim balap independen alias tim satelit lewat management Aprilia Grand Prix Racing Youth Programme. 

Itu artinya Valentino Rossi merupakan bagian dari akademi balap tim Aprilia yang diyakini bisa meneruskan marwah dominasi pembalap Italia di kancah balap motor internasional sekelas MotoGP. Rossi diberi kontrak 2 tahun dan mematok target masuk 10 besar di tahun debutnya. Baru setahun kemudian Rossi diberi mesin spek pabrikan untuk dicalonkan sebagai juara dunia sekaligus mempermudah Rossi lolos ke kategori kelas 250cc. 

Tim balap milik Giampiero Sacchi diluncurkan dengan nama Scuderia Carrizosa yang disponsori oleh AGV Helmet, Mariani Petroli, Rivacold, IP Lubricants & Alpinestars Shoes. Valentino Rossi didaulat sebagai pembalap tunggal di kelas 125cc dengan dibekali mesin keluaran tahun 1995 yang telah dimodifikasi ulang sesuai dengan regulasi yang berlaku. 

Namun, tidak hanya Rossi yang membalap bersama Scuderia Carrizosa, tapi juga ada pembalap senior Italia yang menjadi rekan satu tim Valentino Rossi. Bedanya, Rossi membalap di kelas 125cc sedangkan yang satu lagi membalap di kelas 250cc. Rekan satu tim Valentino Rossi di kelas berbeda itu adalah Luca Boscoscuro yang kini menjadi manager tim Speed Up Moto2.

Rossi memakai nomor balap 46 yang ikonik hingga kini, sedangkan Boscoscuro memakai nomor balap 20 yang kini dipakai Fabio Quartararo asal Perancis. Target Valentino Rossi di musim perdananya sebagai rookie adalah menang 1 kali saja dan bertengger di zona 10 besar klasemen. 

Cukup realistis karena Valentino Rossi adalah pembalap muda yang semangatnya masih membara, bahkan sejak saat itu Valentino Rossi memakai julukan Rossifumi. Julukan itu dibuatnya sendiri lantaran dia terinspirasi dari pembalap asal Jepang, Norifumi Abe yang kala itu baru berusia 18 tahun berani menggeber motor Honda NSR 500 melawan pembalap kawakan macam Kevin Schwantz & Mick Doohan.

Balapan pertama Valentino Rossi dimulai pada seri Malaysian Grand Prix di sirkuit balap Batu Tiga, Shah Alam pada bulan April 1996. Kebetulan seminggu sesudah Malaysian Grand Prix seri balap selanjutnya diselenggarakan di sirkuit Sentul, Bogor yang bertajuk Indonesian Grand Prix. 

Saat balapan di sirkuit Shah Alam, Rossi mampu finish di posisi 6 dan hasil itu cukup memuaskan karena untuk ukuran seorang rookie memang jangan target podium dulu. 
Selanjutnya di Indonesian Grand Prix yang bertepat di Sirkuit Sentul ia hanya finish di posisi 11 dan begitu pun ketika Rossi melakoni balapan seri ketiga di sirkuit Suzuka bertajuk Japanese Grand Prix dimana posisi 11 masih digenggamnya. 

Saat balapan di sirkuit Jerez, Spanyol dan melakoni balapan sebagai tuan rumah di sirkuit Mugello, Italia' Rossi finish di posisi 4 dan hampir merengkuh podium pertamanya. 
Kinerja Rossi selama 5 seri awal memang belum memuaskan karena baru sekedar masa adaptasi lantaran ini adalah kejuaraan dunia.

Konsistensi Valentino Rossi mulai goyah saat balapan di sirkuit Paul Ricard, Perancis dan sirkuir Assen, Belanda. Rossi mulai sering jatuh karena kalah berduel dengan pembalap lain bahkan ia melakukan kesalahan kecil saat hendak melakukan overtake. 

Di German Grand Prix yang diselenggarakan di sirkuit Nurnburgring, Valentino Rossi mampu bertengger di posisi 5. Namun, lagi-lagi Rossi harus bernasib sial saat melakoni balapan di sirkuit Donington Park. Saat balapan di British Grand Prix, motor Valentino Rossi mengalami masalah mekanis dan membuatnya kembali ke pitlane lebih awal.

Barulah di Austrian Grand Prix, Valentino Rossi menunjukkan tajinya guna merebut podium saat melakoni balapan di sirkuit A1 Ring. Hasilnya ia berhasil mempertahankan podium 3 sekaligus menjadi podium pertamanya dalam sejarah karir balapnya di MotoGP. 

Dan secara mengejutkan, Rossi tampil impresif dan melibas lawannya satu demi satu saat balapan di sirkuit Brno, Republik Ceko. Dia melibas Kazuto Sakata, Tomomi Manako, Haruchika Aoki dan Jorge Aspar Martinez untuk merebut kemenangan pertamanya. 

Maka setelah menjalani pertarungan sengit, Rossi berhasil menang untuk pertama kalinya di level kejuaraan dunia. Kemenangan perdana Valentino Rossi disambut air mata bahagia seluruh anggota tim Scuderia Carrizosa, yang paling bahagia saat itu adalah Giampiero Sacchi selaku managernya.

Sampai-sampai seusai perayaan kemenangan pertamanya di sirkuit Brno, Jorge Aspar Martinez sempat mengatakan bahwa gaya balap Rossi sangat berbahaya dan tidakseperti kebanyakan pembalap lainnya. 

Rossi bisa saja juara kelas 500cc sekarang kalau nanti ia naik kelas, ujar Jorge Aspar Martinez dalam memoarnya soal Valentino Rossi.

(Bersambung)