Jumat, 06 Agustus 2021
Valentino Rossi Resmi Pensiun, Marc Marquez Jangan Senang Dulu (Sebab Ada...)
Jumat, 23 Juli 2021
Norifumi Abe, Pembalap 500cc Remaja era 90an yang Melegenda (Part 03)
Rabu, 14 April 2021
Technical Sports Racing (Dalam Bahasa Inggris)
Technical Sports Racing (also known by the acronym TSR) is a Japanese company that produces components for motorcycles.
Since 1991 the squad has participated, with various models of motorcycles, in various classes of the world championship. The first few seasons they raced only as a team, while from 1998 he entered the 250 class as a manufacturer, also expanding to the 500 class the following season.
In 1991 the only rider of the team was Noboru Ueda, who won two wins this season, while in 1992, again in 125, Kazuto Sakata lined up.
In 1993 they entered the 125 class with Kazuto Sakata and Takeshi Tsujimura, who finished second and third in the standings with three victories in total.
In the following season Takeshi Tsujimura is confirmed in 125, who wins four times during the season, flanked by Tomoko Igata and for three races by Tomomi Manako.
In 1995 the team owner confirmed Tomoko Igata and Tomomi Manako for the 125 class and took Takeshi Tsujimura up to the 250 class.
The following year TSR squad lined up at the start of the only 250 class, with Takeshi Tsujimura and Yasumasa Hatakeyama.
In 1997 the team lined up a 1996 spec Honda NSR 500 in the 500 class entrusted to Nobuatsu Aoki, who finished third in the standings with four podiums, while in the 250 class the starting rider was Takeshi Tsujimura, who finished in seventh position.
In 1998 the riders of the FCC TSR team were Matt Wait in the 500 class on a Honda NSR 500 V2 and Haruchika Aoki in 250, equipped with Honda NSR 250, who also won a podium. TSR also participates as a manufacturer, supplying the TSR-Honda 250 in the middle class to other riders, such as Luca Boscoscuro, Jeremy McWilliams, Roberto Rolfo and Jason Vincent, finishing in 4th place in the constructors' classification.
The following year the driver for the premier class is Yoshiteru Konishi, replaced for a grand prix by Tekkyū Kayō, and the final result in the constructors' classification is 5th place. In 250 the role of constructor prevails again and the fourth position in the standings is confirmed; once again Kayo runs in Japan as a wildcard.
In 2001 the blue squad only took part in the 125 class with Noboru Ueda, who obtained a victory in the Italian GP, taking 5th place among the constructors.
In 2010, TSR returns to the start of the world championship in the Moto2 class by providing its TSR 6 to the JiR team which, for sponsorship reasons, enrolls it as a Motobi. The only TSR-branded participation takes place in the home match by fielding Yusuke Teshima.
In 2011 the relationship with JiR continues, with only Alex De Angelis; he also takes part directly in the home GP by running Tomoyoshi Koyama, the relationship will continue for 2012, 2013 and 2014.
Rabu, 27 Januari 2021
Romantika Valentino Rossi Bersama Tim Satelit Bikinan Mick Doohan & Jeremy Burgess (Part 02/END)
Terbentuknya tim Nastro Azzurro Honda mengundang pertanyaan mengapa HRC menempatkan Rossi di tim satelit. Mengingat dulu pada tahun 1998' Max Biaggi, rival abadi Valentino Rossi juga pernah ditempatkan pada posisi serupa.
Romantika Valentino Rossi Bersama Tim Satelit Bikinan Mick Doohan & Jeremy Burgess (Part 01)
Tahun ini Valentino Rossi akan kembali berlaga sebagai pembalap tim satelit, mengingat posisinya sudah diganti oleh pembalap muda asal Perancis, Fabio Quartararo.
Rabu, 30 Desember 2020
Nestapa Karir Alberto Puig, Guru Balap Dani Pedrosa (Part 04/END)
Kamis, 10 Desember 2020
Nestapa Karir Alberto Puig, Guru Balap Dani Pedrosa (Part 03)
Nestapa Karir Alberto Puig, Guru Balap Dani Pedrosa (Part 02)
Nestapa Karir Alberto Puig, Guru Balap Dani Pedrosa (Part 01)
Alberto Puig kini duduk manis di atas kursi kekuasaan sebagai team principal Repsol Honda dimana ada pembalap paling bertalenta dan dominan saat ini, Marc Marquez. Namun, sebelum menduduki jabatan basah di Repsol Honda, ia merupakan seorang pembalap yang hebat dan bernyali tinggi.
Jumat, 27 November 2020
Norifumi Abe, Pembalap 500cc Remaja era 90an yang Melegenda (Part 02)
Norifumi Abe, Pembalap 500cc Remaja era 90an yang Melegenda (Part 01)
Sejarah mencatat bahwa Norifumi Abe adalah pembalap termuda yang pernah debut sebagai wildcard sekaligus full time rider di kelas 500cc.
Saat membalap di kelas 500cc untuk pertama kali, Norifumi Abe masih berusia 17 Tahun tepatnya di kejuaraan balap motor nasional All Japan Road Racing Championship musim 1992. Di usianya yang terhitung belia itu ia dipercaya menjadi pembalap kelas premier di kejurnas.
Kelas 500cc yang dipertandingkan merupakan kelas untuk para pembalap yang menjabat sebagai test rider di pabrikan resmi masing-masing. Diantara pembalap yang berkompetisi di kelas 500cc All Japan Road Racing Championship ada pembalap yang sudah mencicipi kejuaraan dunia seperti Shinichi Itoh dari Honda HRC dan Norihiko Fujiwara dari Yamaha yang sempat dikontrak Team Roberts untuk seri Suzuka.
Sebetulnya Abe bukanlah pembalap yang dijagokan sebagai juara, namun berkat keuletan tim dan kru mekanik yang handal membuatnya menyabet gelar juara kelas 500cc pada tahun 1993. Sebagai hadiah, ia mendapat tiket untuk berkompetisi di kejuaraan 500cc dunia musim depan di sirkuit Suzuka.
Menjelang persiapan balapan di Suzuka, Abe menggaet sponsor baru yaitu Mister Donut karena kontraknya dengan SEGA sudah habis akhir tahun lalu. Balapan di Suzuka terasa spesial karena dia adalah pembalap wildcard termuda yang pernah berkompetisi di kelas tertinggi balap motor 2 tak level internasional.
Saat balapan Abe bertarung sengit dengan Mick Doohan dan Kevin Schwantz yang kala itu sedang jadi bintang balap kondang. Bedanya, Norifumi Abe memakai ban Dunlop yang nyata-nyata tidak kompetitif seperti ban Michelin.
Namanya juga pelajaran sudah pasti ada kegagalan, Abe tersungkur dan menjadi pusat perhatian media massa karena keberaniannya menghadapi kedigdayaan pembalap kawakan seperti Mick Doohan yang berstatus calon juara dunia kala itu.
Tidak butuh waktu lama, Abe dikontak oleh Wayne Rainey dan diberi dukungan untuk tetap semangat meski gagal mengalahkan Mick Doohan. Wayne Rainey mengajak Abe gabung ke Yamaha Team Roberts' kesempatan itu tidak disia-siakan karena bisa bergabung menjadi pembalap tim pabrikan.
Sebagai pembalap tim independen, Abe boleh saja keluar dari zona nyaman dimana Honda merupakan pabrikan terkuat saat itu. Yamaha adalah pelabuhan baru sekaligus yang terakhir baginya karena potensinya menjadi bintang balap tidak dihiraukan oleh Honda.
Yamaha beruntung bisa merekrut Abe sekaligus mempersiapkan pengganti Daryl Beattie yang penampilannya melempem dan tidak bisa menyamai Luca Cadalora. Yamaha jelas tidak hanya mengandalkan Luca Cadalora sebagai tulang punggung tim, kehadiran Norifumi Abe di Yamaha memberi warna tersendiri bagi jagat balap motor.
Abe tampil sebagai wildcard lagi di sirkuit Donington Park, sirkuit Brno dan sirkuit Laguna Seca. Alhasil Norifumi Abe mencetak 20 poin karena selalu finish di posisi 6 dalam dua balapan dimana sisanya tidak finish.
Desember 1994, Norifumi Abe disahkan sebagai pembalap pabrikan Yamaha menggantikan posisi Daryl Beattie yang hengkang ke Suzuki menemani Kevin Schwantz. Duet antara Norifumi Abe dan Luca Cadalora merupakan duet kombinasi pembalap muda dan pembalap tua yang berpengalaman juga solid.
*****
Kamis, 05 November 2020
Scuderia Carrizosa, Tim Balap Yang Membawa Valentino Rossi Juara Kelas 125cc (Part 02/END)
Roda motor balap ikut berputar dengan roda nasib, Valentino Rossi seusai memenangkan balapan di sirkuit Brno, Republik Ceko akhirnya mulai merasakan sesuatu yang tidak beres pada motornya.
Scuderia Carrizosa, Tim Balap Yang Membawa Valentino Rossi Juara Kelas 125cc (Part 01)
Pada tahun 1996, Valentino Rossi berlaga untuk pertama kalinya di kejuaraan dunia MotoGP untuk kategori kelas 125cc. Seusai menjuarai kelas 125cc di level balap nasional, Rossi langsung ngebut bersama tim Aprilia. Namun, sebagai pembalap rookie dia harus ditampung dulu di tim satelit' kebetulan tim itu dimanageri oleh Giampiero Sacchi, promotor handal yang jago mendatangkan sponsor.












