Jumat, 23 Juli 2021

Norifumi Abe, Pembalap 500cc Remaja era 90an yang Melegenda (Part 03)

 

Norifumi Abe bersama Loris Capirossi, Jean Michel Bayle dan Kenny Roberts JR mengaspal dalam bendera tim yang sama dan sponsor yang sama. Sayangnya pengembangan motor YZR 500 dianggap lambat dan ketinggalan jaman sehingga Yamaha sulit bersaing dengan Honda. 

Al hasil, Yamaha cuma bisa menang 2 kali dan merengkuh podium 4 kali dalam satu musim sehingga gagal menggeser dominasi Honda yang hebat di segala lini. Mulai dari tim pabrikan hingga tim Satelit, Honda benar-benar unggul meski yang paling banyak menang cuma Mick Doohan saja. 
 
Norifumi Abe masih aman posisinya karena kontraknya baru ditambah dan berakhir pada tahun 1998. Sedangkan Loris Capirossi yang menang di seri terakhir malah cuma dikontrak satu musim akhirnya terdepak dari kelas 500cc. 
 
Kenny Roberts JR dan Jean Michel Bayle masih bertahan di kelas 500cc karena didukung sponsor, Sayangnya manager tim pabrikan Yamaha' Kenny Roberts Senior hengkang bersama kedua pembalap andalannya tadi karena ketidakpuasaan terhadap kinerja Yamaha. 
 
Norifumi Abe membalap sendirian untuk tim Yamaha di musim selanjutnya saat kepemimpinan dipegang oleh Wayne Rainey. Untuk menemani Abe, masuklah pembalap Spanyol yang sempat membalap di kelas 250cc yaitu Sete Gibernau. 
 
*****

Sabtu, 19 Juni 2021

Yamaha TZ 250 M, Motor Lembek Dengan Sasis Kuat

Foto : Yamaha TZ 250 M, Dikendarai Erwan Nigon

Yamaha TZR250 adalah sepeda motor yang dirancang dan diproduksi oleh pabrikan sepeda motor Jepang Yamaha antara tahun 1986 dan 1995.

Yamaha memproduksi sepeda motor balap Yamaha TZ250 dengan teknologi Parallel-twin, reverse cylinder dan memiliki varian V-twin 90 °.  Teknologi yang dipasang ini berkembang sebagai pengganti natural untuk seri RD 250/Yamaha RD350LC yang populer tahun 1980-an. 
 
Motor ini memiliki fitur canggih bernama Yamaha Power Valve System 'YPVS', gunanya menaikkan dan menurunkan tingkat pembuangan yang tergantung pada rpm mesin. Putaran tenaga YPVS mulai terbuka mencapai sekitar 6.000 rpm. Dalam bentuk standarnya menghasilkan 45 hp karena knalpot standar dan kotak pengapian yang terbatas.
 
TZR250 masih dilombakan di seri balapan Yamaha Past Masters dengan klub balap Inggris (BMCRC) pada 2018.  Mesin balap saat ini mengklaim sekitar 56 hp (42 kW) pada 11.000 rpm. Rasio bahan bakar balap biasanya 1:30. 

Knalpot standar berbahan keras dipasang untuk meningkatkan tenaga dan torsi mesin, tetapi ukurannya sangat besar dan menghalangi ground clearance. Knalpot Jolly Moto (pembuat knalpot asal Italia) adalah jenis knalpot pengganti yang populer karena lebih ringan, menghasilkan kinerja yang serupa sekaligus meningkatkan ground clearance.

Sebuah body kit balap F3 diproduksi selama beberapa tahun yang mencakup kotak pengapian, karbo dan knalpot, membantu meningkatkan putaran maksimum, tenaga dan torsi.
Produksi dimulai pada bulan Juni 1986 dengan biaya sekitar $6.000 dan baru dirilis saat itu karena dilihat sebagai sepeda motor balap yang mahal untuk ketagori 250cc, tetapi mengingat tempat-tempat seperti Jepang, Italia dan Australia memiliki 250 undang-undang lisensi di tempat orang dapat membayangkan guncangan bahwa sesuatu yang bisa merepotkan di trek yang disebabkan oleh tenaga mesin yang besar namun agak lembek. 

Varian 2MA kembar menjadi varian pilihan konsumen di Inggris dan model 1KT menjadi model domestik untuk pasaran Jepang yang juga dilengkapi dengan CDI yang lebih ketat untuk mematuhi undang-undang Jepang yang menetapkan batas atas 45 hp untuk sepeda motor 250cc. 

Variasi antara kedua model ini minimal, misalnya pada rem master silindernya dalam kalimat bahasa Inggris atau Jepang. Pengaturan pencahayaan motor juga berbeda, untuk mematuhi peraturan Undang-Undang di Inggris, terutama indikator dipasang pada tangkai daripada dipasang pada bodi.

Pada tahun 1989, motor TZ 250 versi silinder terbalik dengan paralel kembar, 3MA tiba (3MA1). Pada motor TZ 250 series untuk tahun produksi 1990 yakni versi 3MA dengan dipasangi garpu terbalik serta ruang besar untuk ekspansi berbentuk besar untuk lebih banyak daya mid-range dengan mengorbankan sedikit daya top-end (3MA3). Kemudian pada tahun 1991-1996 dirilis TZ 250 series bermesinkan Yamaha V-twins 3XV.

The 3XV dijual secara harga lumayan mahal dalam 8 varian dengan mesin berbahan karbo yang berbeda, pengapian, kopling basah/kering, tiga versi daya katup, masing-masing silinder digambarkan oleh nomor papan yang beda warna pada panel samping dan fairing depan. Nama Yamaha TZ 250 versi ini diantaranya menjadi 250R; 250RS; 250RSP; 250SP dan 250SPR.

Varian Yamaha TZ250 M mengikuti konfigurasi motor balap TZ250 versi legal kala itu, memiliki casing yang dibagi pada mesin yang sama, bingkai dan dalam beberapa model mesin silinder, karbo, dan katup dayanya.

Di MotoGP kelas 250cc, motor Yamaha TZ 250 memenangkan gelar juara pada tahun 1990 dan 1993. Tahun 1990 Yamaha TZ 250 M dikendarai oleh pembalap asal Amerika Serikat' John Kocinski (Dengan Catatan) ia pernah memakai motor seri YZR 250 yang merupakan motor berstatus official factory made for race. 

Tahun 1993, pembalap asal Jepang' Tetsuya "Cool Devil" Harada berhasil menjadi juara dunia meski tenaga motornya lembek. Namun, dengan konsistensi dan kinerja kru mekanik yang handal membuatnya bisa memenangkan balapan walau lawannya tangguh-tangguh.

*****

Sabtu, 22 Mei 2021

Sejarah Team Roberts atau Team KR

 

Norifumi Abe, Marlboro Team Roberts 1994

Kenny Roberts telah pensiun dari kompetisi balap motor pada akhir 1983 setelah memperoleh 3 gelar kejuaraan dunia dengan sepeda motor Yamaha, yaitu pabrikan sepeda motor Jepang yang ia tetap setia sepanjang karirnya. Berkat relasinya yang baik, ia berhasil mendapatkan dukungan resmi dari Tuning Fork Home untuk memulai karir barunya sebagai manajer tim balap. Kegiatan ini sudah dimulai pada kejuaraan dunia tahun 1984 di kelas 250cc, tim balapnya menurunkan Wayne Rainey sebagai pembalap top lokal bersama Alan Carter yang merupakan sesama pembalap Amerika Serikat.

Pada 1986 ia menurunkan tim di kelas 500cc sebagai privateer team, sekali lagi dengan motor buatan Yamaha, dengan mengandalkan Randy Mamola sebagai rider utama di setiap edisi balapan yang menyelesaikan musim perdana di posisi ketiga dalam klasemen pembalap dan berhasil meningkatkan performa apik lebih jauh di tahun berikutnya, finis di posisi klasemen kedua. Kemudian Team Roberts harus kehilangan Randy Mamola yang hijrah ke tim pabrikan Cagiva pada tahun 1988. 
 
Lantas tim ini menyusun line up baru di kelas utama' dimana Wayne Rainey diapit oleh Kevin Magee sebagai duo maut Yamaha pabrikan, mereka masing-masing finis di posisi ketiga dan kelima dalam klasemen akhir pembalap. Duo line up pembalap yang sama juga berhasil sukses melewati musim 1989 dengan menempati posisi kedua dan kelima klasemen akhir.

Pada tahun 1990, Marlboro menjadi sponsor baru menggantikan Lucky Strike yang pindah ke Suzuki Grand Prix Team yang notabene merupakan rival bebuyutan, Tim Yamaha milik Roberts bersaing di dua kela : Wayne Rainey berduet dengan Eddie Lawson yang hengkang dari Honda setelah menjadi juara di musim 1989 dan John Kocinski membalap untuk tim ini di kelas 250cc dengan memaki motor Yamaha YZR250. 
 
Ini adalah tahun yang sangat positif dan gemilang bagi tim Roberts dimana Wayne Rainey menjadi juara dunia kelas 500cc dan John Kocinski menjadi juara dunia pula di kelas 250cc. 
 
Pretasi tim Roberts di kancah balap dunia makin meroket dan berlanjut pada musim 1991 dimana Wayne Rainey berduet dengan John Kocinski yang pada tahun sebelumnya adalah juara kelas menengah 250cc. Sayangnya John Kocinski hanya dikontrak dua musim dan pada akhir tahun 1992 ia kembali menggeber motor kelas 250cc bersama tim Lucky Strike Suzuki Tech 3 untuk musim 1993. 

Posisi kosong untuk teammate Wayne Rainey jatuh pada Luca Cadalora dari Italia yang sukses menjuarai kelas 250cc dua kali berturut-turut pada tahun 1991-1992. Bahkan Cadalora diproyeksikan sebagai penerus Wayne Rainey.

Tragisnya Wayne Rainey pensiun dari dunia balap sebelum musim 1993 usai setelah mengalami kecelakaan yang membuanya lumpuh seumur hidup. Kecelakaan itu terjadi saat berlangsungnya balapan di sirkuit Misano, San Marino. 

Wayne Rainey pensiun, menjelang musim 1994 ia digantikan oleh Daryl Beattie dari Australia yang dulunya merupakan pembalap tim Honda Kanemoto. Sayangnya karir pembalap asal negeri kanguru itu diwarnai cidera parah sehingga lebih sering absen dan diganti.

Di tahun itu pula posisi Daryl Beattie diganti sementara oleh pembalap muda asal Jepang, Norifumi Abe yang tampil fantastik di sirkuit Suzuka. Abe cukup hebat dan secara eksklusif ia dikontrak 4 tahun oleh Yamaha.

Luca Cadalora dan Norifumi Abe berduet sebagai pembalap andalan Yamaha dimana Cadalora menang di sirkuit Brno, Republik Ceko dan sirkuit Jacarepagua. Sedangkan Abe meraih podium perdananya di sirkuit Jacarepagua, Brazil.
 
Pada tahun 1996 putra Kenny Roberts yaitu Kenny Roberts JR bergabung dengan Norifumi Abe di tim utama Yamaha bersama Jean-Michel Bayle. Dan musim ini merupakan musim yang buruk dimana Yamaha tidak mampu mengalahkan Honda yang sangat superior sepanjang musim. Dan pada akhir musim 1996, tim milik Roberts putus kontrak dengan Yamaha lalu menjalin kerjasama dengan pabrikan motor asal Malaysia, Modenas untuk mengarungi musim 1997.

Kerjasama tim Roberts dengan pabrikan motor Modenas menghasilkan motor bermesin tiga silinder yang bermerek Modenas KR3, motor balap ini diproduksi di Malaysia dan pengembangannya dilakukan di Inggris. Sayangnya pada musim 1997 s/d 1999 performa motor ini tidak maksmal dan menjadi mimpi buruk bagi klasemen pembalap dan konstruktor. 

Modenas pun mundur dari kejuaraan dunia pada tahun 2000 dan posisinya diambil alih oleh sesama perusahaan otomotif Malaysia yaitu Proton' milik Perdana Menteri Malaysia kala itu, Dato Tan Sri Mahathir Muhamad.

Pada tahun 2001, pembalap asal Belanda' Jurgen Van Den Goorbergh direkrut sebagai pembalap tunggal lantaran minimnya pendanaan dari sponsor untuk penghematan gaji.

Dengan berlakunya mesin 4 tak, tim Roberts atau sekarang disebut tim KR merombak susunan pembalapnya dengan mengajak Jeremy McWilliams dan Nobuatsu Aoki sebagai pembalap utama untuk musim 2002 dan 2003.

Situasinya tidak membaik bahkan pada tahun berikutnya karena Jeremy McWilliams pindah ke Aprilia dan posisinya diganti oleh anak kedua Kenny Roberts, ialah Kurtis Roberts dan sempat diganti juga oleh pembalap asal Inggris James Haydon pada balapan terakhir musim 2004 di mana Kurtis Roberts mengalami cedera.

Pada tahun 2005 Roberts menandatangani kontrak perjanjian untuk pasokan mesin dengan pabrikan asal Austria, KTM. Tetapi perjanjian tersebut berakhir sebelum musim berakhir dan pihak hanya memperoleh satu poin di seluruh musim. 
Sedangkan nama resminya berganti menjadi Team Roberts saja tanpa embel-embel pabrikan manapun serta kehilangan banyak sponsor.
 
Pada tahun 2006, tim Roberts mendapat dukungan teknis dari Honda, Pihak management HRC sendiri memasok mesin motor RC 211V yang usianya setahun lebih tua. Mereka menciptakan motor balap baru dengan merek KR 211V yang dihasilkan dari kerjasama itu. Kenny Roberts JR ditunjuk sebagai pembalap tunggal lantaran minimnya dana sponsor dan ia menghasilkan 2 podium.

Situasi berubah pada tahun 2007 saat regulasi mesin dirombak, mesin motor 990cc digantikan mesin 800cc lantaran kencangnya motor generasi terdahulu yang sempat memakan korban jiwa. Honda menyuplai mesin 800cc untuk tim Roberts dan menciptakan motor baru yakni KR 212V. Sayangnya motor tersebut kurang kompetitif dan hanya mendapat sedikit poin.

Seusai balapan di sirkuit Valencia, tim Roberts dibubarkan oleh pemiliknya setelah 22 tahun beroperasi sebagai kompetitor kuat dengan menghasilkan banyak kemenangan dan podium.
 
*****

Selasa, 27 April 2021

World Wide Race (Dalam Bahasa Inggris)

 

Picture :Roberto Locatelli ride in Diesel Vasco Rossi team

World Wide Race is a motorcycle team based in Luxembourg with a logistics and organizational base in Switzerland.
 
The team was founded in 1997 thanks to the funding of the singer Vasco Rossi, with the name that becomes "Vasco Rossi Racing" by virtue of this commercial agreement. The debut on the track took place in the 125 class of the 1998 World Championship with Ivan Goi as rider, the bikes were Aprilia and the technical department headed by Italo Fontana while the team manager of the team was Fiorenzo Caponera. [

In 1999 the team expanded his participation in the 250 class with Roberto Rolfo as a rider, while they continued in the 125 class by hiring Roberto Locatelli, with the latter taking the first victories in a team GP. In the 2000 world championship the team wins the title of world champion in the 125 class with Roberto Locatelli. They also participates with Simone Sanna as second rider in the 125 class and Luca Boscoscuro in 250.

After the partnership with Vasco Rossi at the end of 2000, in 2001 the team found new financiers by taking the name of "Safilo Oxydo Race", confirming Sanna in 125 and taking Rolfo back for the 250 class.
 
In the 2002 season it changed its name again becoming "Imola Circuit Exalt Cycle Race", winning for the second time in its history the world title in the 125 class, on this occasion with the French rider Arnaud Vincent. Franco Battaini is deployed in the 250 class who finishes sixth in the general classification.

Winning the world title, Vincent leaves the team, replacing him with Steve Jenkner, the German rider wins his first race in the world championship this year at the Dutch GP. 
 
Together with Jenkner, Hungarian Gábor Talmácsi runs in the same class. 
Yet another name change in 2004, with the team becoming "Rauch Bravo"; confirmed Jenkner, Marco Simoncelli is hired as the new rider, obtaining his first victory in the world championship at the Spanish GP.

In 2005 the team confirmed Simoncelli in the 125 class, alongside the Spanish rider Joan Olivé, while Jenkner was reconfirmed but was moved to the 250 class. To report the results of Simoncelli, who won the Spanish GP for the second consecutive year, also obtaining other five podium finishes over the course of the championship.
 
The team enters the 2006 world championship as "Multimedia Racing", fielding three new riders in the 125 class who are: Pablo Nieto, Raffaele De Rosa and Vincent Braillard. Nieto and De Rosa get some points finishes, with Braillard not getting championship points.
 
There are still three riders also in 2007, with De Rosa reconfirmed to which two new riders are added, Dominique Aegerter and Simone Grotzkyj. Also in this year some points were obtained, without obtaining podium finishes. 
 
The 2008 MotoGP World Championship takes part as "I.C. Team", replacing all three riders from last season and engaging in their place: Andrea Iannone, Michael Ranseder and Takaaki Nakagami. Iannone himself won his first race in the world championship at the Chinese GP, bringing the team back to victory (an event that had not occurred since 2005).

In 2009, raced as "Ongetta Team I.S.P.A", the riders entered in the 125 class of the world championship rise to four, Iannone and Nakagami are reconfirmed, while Jonas Folger and Lorenzo Zanetti are hired this season. 
 
Iannone confirms himself as the best rider of the team, with seventh place in the general classification, winning three races, another podium finish and two pole positions. A podium placement also for Folger, while Nakagami and Zanetti get some placements in the points.

Five riders entered the team in 2010, with Folger (the only confirmed driver compared to 2009), Alexis Masbou and Luca Marconi racing with "Ongetta Team". 
 
While two other riders, Sturla Fagerhaug and Zulfahmi Khairuddin registered as team riders " AirAsia - Sepang Int. Circuit ". None of the five, however, manages to get a podium finish, managing on some occasions to get points for the riders' classification.
 
Three motorcycles lined up for the 2011 world championship are back, entrusted to the returning Simone Grotzkyj, Taylor Mackenzie and Giulian Pedone; with the change of sponsorship the team becomes "Phonica Racing". Also in this year the results see the three riders obtain some points, without significant placements.
 
In 2012 the 125 class was suppressed from the world championship, therefore the team, which this season became "Ambrogio Racing", enrolled in the Moto3 class. 
 
Initially confirming two of the three riders lined up the previous season, Simone Grotzkyj and Giulian Pedone, to then replace, after the Italian Grand Prix, Grotzkyj with Álex Márquez. 
 
Given the change in class, the supplier of the motorcycle also changes, after 13 years the collaboration with Aprilia ends, the team decides to rely on Oral motorcycles for the first three races of the season, to then complete the season with Suter MMX3.

Change of both riders for the 2013 season, with the signing of Brad Binder and Danny Webb, although the latter was replaced after the first seven races of the championship first by Jules Danilo and then by Luca Amato. Also as regards the motorcycle used there was a change during the season, with the first twelve GPs raced with Suter motorcycles, and then in the last six GPs passed to Mahindra MGP3O motorcycles.
 
For 2014 Brad Binder is confirmed and Jules Danilo (who had already raced as a replacement rider last year) is called to race as a starting rider. The South African Binder gets the second place at the GP of Germany, for him this is the first podium in his career in the context of the world championship. 
 
A South African rider had not achieved a podium finish in the world championship for 29 years, since Mario Rademeyer finished third in the 1985 South African GP raced at Kyalami in the 250 class. Binder also gets another podium at the Japanese GP, placing eleventh in the world championship standings with 109 points.

Change of sponsorship and consequent change of name for the 2015 season, with the team now becoming "Outox Reset Drink". 
I change also as regards the riders, Alessandro Tonucci and Darryn Binder (brother of Brad Binder, team rider in the two previous years) are signed, even if neither of them manages to get points for the riders' classification.

In 2016 he participates as "Platinum Bay Real Estate", confirming Darryn Binder for the second season, while Karel Hanika is initially hired as the second rider, even if the latter is replaced after the first seven races on the calendar by Danny Webb, who after two races is also replaced with Marcos Ramírez. This season the team gets world championship points with Binder and Ramírez.

Also confirmed in 2017 Binder and Ramírez, who had finished the 2016 championship, but the motorcycle used was changed, the team decided to switch to the KTM RC 250 GP.
 
In 2018 the starting riders are the Spaniards Jaume Masiá and Marcos Ramírez, the latter obtaining two podium finishes this season. At the end of this season the team is fifth in the team standings. In 2019 the riders are Andrea Migno and Jaume Masiá, who wins the Argentine Grand Prix. At the end of the season they are respectively thirteenth and not placed in the riders' standings and the seventh team in the team standings.

After 23 years of continuous participation in world championship competitions, in the 2020 season he does not register due to the lack of sponsorships.

*****

Rabu, 14 April 2021

Technical Sports Racing (Dalam Bahasa Inggris)

Picture : Nobuatsu Aoki

Technical Sports Racing (also known by the acronym TSR) is a Japanese company that produces components for motorcycles.

Since 1991 the squad has participated, with various models of motorcycles, in various classes of the world championship. The first few seasons they raced only as a team, while from 1998 he entered the 250 class as a manufacturer, also expanding to the 500 class the following season.
 
TSR took part in the world championship in a double role, both as a team and as a manufacturer; in both cases the team has always had a close working relationship with Honda.

In 1991 the only rider of the team was Noboru Ueda, who won two wins this season, while in 1992, again in 125, Kazuto Sakata lined up.

In 1993 they entered the 125 class with Kazuto Sakata and Takeshi Tsujimura, who finished second and third in the standings with three victories in total.

In the following season Takeshi Tsujimura is confirmed in 125, who wins four times during the season, flanked by Tomoko Igata and for three races by Tomomi Manako.

In 1995 the team owner confirmed Tomoko Igata and Tomomi Manako for the 125 class and took Takeshi Tsujimura up to the 250 class.

The following year TSR squad lined up at the start of the only 250 class, with Takeshi Tsujimura and Yasumasa Hatakeyama.

In 1997 the team lined up a 1996 spec Honda NSR 500 in the 500 class entrusted to Nobuatsu Aoki, who finished third in the standings with four podiums, while in the 250 class the starting rider was Takeshi Tsujimura, who finished in seventh position.

In 1998 the riders of the FCC TSR team were Matt Wait in the 500 class on a Honda NSR 500 V2 and Haruchika Aoki in 250, equipped with Honda NSR 250, who also won a podium. TSR also participates as a manufacturer, supplying the TSR-Honda 250 in the middle class to other riders, such as Luca Boscoscuro, Jeremy McWilliams, Roberto Rolfo and Jason Vincent, finishing in 4th place in the constructors' classification.
 
In 1999 japanese blue squad presented at the start in 500 Haruchika Aoki, flanked by José Luis Cardoso, the latter with a team called Maxon TSR, being replaced in a grand prix by David de Gea; in the constructors' classification it is sixth. 
 
This season they participates with the TSR-Honda AC50M, a motorcycle equipped with a frame designed by TSR itself, with an engine supplied by Honda. In the 250 they limits his commitment to the role of constructor, equipping various teams and riders, obtaining the fourth position. The only direct presence as a team is that of Tekkyū Kayō, taking advantage of a wildcard in his home GP.

The following year the driver for the premier class is Yoshiteru Konishi, replaced for a grand prix by Tekkyū Kayō, and the final result in the constructors' classification is 5th place. In 250 the role of constructor prevails again and the fourth position in the standings is confirmed; once again Kayo runs in Japan as a wildcard.

In 2001 the blue squad only took part in the 125 class with Noboru Ueda, who obtained a victory in the Italian GP, ​​taking 5th place among the constructors.
 
In 2002 Andrea Ballerini was hired for the 125, who was replaced in the last few races by Dario Giuseppetti, in turn flanked twice by Joshua Waters.

In 2010, TSR returns to the start of the world championship in the Moto2 class by providing its TSR 6 to the JiR team which, for sponsorship reasons, enrolls it as a Motobi. The only TSR-branded participation takes place in the home match by fielding Yusuke Teshima.

In 2011 the relationship with JiR continues, with only Alex De Angelis; he also takes part directly in the home GP by running Tomoyoshi Koyama, the relationship will continue for 2012, 2013 and 2014.
 
Sponsor :
 
01. The main sponsor is consistently clutch maker F.C.C. The machine coloring with the company's logo on a white background in bright blue is called "F.C.C.blue" and is popular as a custom paint for Honda's sports bikes.
 
02. In the World Endurance Championship, from the 2017-2018 season, he has teamed up with the French Honda subsidiary "Honda France" to participate as "F.C.C. TSR Honda France". The team colors are the French flag and three colors of blue, white and red.
 
03. Previously, Nagoya's FM radio station ZIP-FM joined the Suzuka 8 Hours as a spot sponsor from 1995 to 2007. The number at that time was # 778 from the ZIP-FM frequency.

Minggu, 28 Maret 2021

Riwayat Honda NSR 500, Motor 2 Tak Legendaris

Foto : Alejandro Criville Tapias, Marlboro Honda Pons, Tahun 1993

Dunia balap motor tidak pernah lepas dari teknologi canggih dan maju, tak terkecuali di MotoGP.
Honda selaku pabrikan motor asal Jepang juga tidak neko-neko dalam membuat sebuah mesin untuk meramaikan persaingan sengit.

Honda NSR 500 adalah aktor dibalik kesuksesan para pembalap di masa kejayaan era 2 tak, tidak sedikit pembalap-pembalap dari seluruh penjuru dunia pernah menjajal keganasan mesin yang diramu oleh HRC sejak tahun 1984. Bahkan, legenda hidup MotoGP sekelas Valentino Rossi pun mengakui bahwa NSR 500 adalah motor terbaik yang pernah dikendarainya.

Di musim perdananya, Honda NSR 500 dikendarai oleh juara bertahan tahun 1983' Freddie Spencer dan Randy Mamola dari Amerika Serikat dengan mengoleksi 8 kemenangan. Freddie Spencer mencetak 5 kemenangan dan Randy Mamola cuma mengoleksi 3 kemenangan. Hal ini dikarenakan Honda NSR 500 belum sempurna perfomanya lantaran harus kalah dengan motor Yamaha YZR 500 yang ditunggangi oleh Eddie Lawson bersama tim Marlboro Yamaha Team Agostini.

Namun, di tahun 1985' barulah Honda NSR 500 menjadi raja di klasemen konstruktor mengalahkan Yamaha YZR 500 dengan mengoleksi 7 kemenangan berkat kemampuan berkendara yang handal Freddie Spencer. Musim 1986 lagi-lagi Honda NSR 500 harus dikalahkan oleh Yamaha YZR 500 milik Eddie Lawson, waktu itu yang menyumbang kemenangn untuk Honda bukanlah Freddie Spencer' melainkan pembalap asal Australia yang bernama Wayne Gardner.

Honda NSR 500 cuma mengoleksi 3 kemenangan lagi seperti ketika musim 1984 saat dikendarai oleh Randy Mamola. Konsistensi Freddie Spencer dipertanyakan, akhirnya Honda NSR 500 harus dikendarai oleh Wayne Gardner sendiri dan ajaibnya ia menjadi juara dunia dengan mengoleksi 7 kemenangan.

Memasuki tahun 1988 terjadi persaingan sengit antara Honda NSR 500 melawan Yamaha YZR 500 yang menyebabkan gagalnya Wayne Gardner menjuarai gelar kelas 500cc. Bahkan ini merupakan musim tersengit di MotoGP untuk kategori kelas 500cc.

Tahun 1989 menjadi kejutan penting bagi dunia balap, Eddie Lawson akhirnya memutuskan untuk pindah ke Rothmans Honda Kanemoto sekaligus menjadi rekan satu tim Wayne Gardner' tentu kondisi seperti ini membuat persaingan semakin meruncing. Eddie Lawson akhirnya menjadi jjuara dunia setelah mengalahkan Wayne Gardner yang notabene rekan satu timnya sendiri.

Eddie Lawson hanya mengoleksi 3 kemenangan saja, namun ia masih bisa menjadi juara dunia untuk ke 4 kalinya' waktu itu hany Eddie Lawson saja yang mampu menjadi juara dunia saat berganti motor dari Yamaha ke Honda. Pengamat dunia balap mengatakan bahwa hanya Eddie Lawson seorang yang mampu menjadi juara dunia 2 kali berturut-turut dengan mesin balap berbeda.

Tahun 1990 menjadi musim terburuk bagi Honda NSR 500, karena waktu itu Yamaha YZR 500 kembali bangkit dari keterpurukan. Ditambah perfoma cemerlang dari pembalap sekelas Wayne Rainey berhasil menyingkirkan tim Rothmans Honda Kanemoto dari puncak klasemen konstruktor.

Selama musim 1990-1993, Honda NSR 500 dikendarai oleh Wayne Gardner dan Mick Doohan dari Australia yang perfomanya belum sanggup mengalahkan Wayne Rainey. Baru setelah itu, di tahun 1994' Honda NSR 500 kembali berkuasa di kelas utama dengan Mick Doohan sebagai juara dunia.

Berikutnya Honda NSR 500 menjadi motor terkuat selama musim 1994-1999, di tahun 1994 motor Honda NSR 500 yang dikendarai Mick Doohan berhasil memenangi 9 balapan sehingga pembalap asal Australia itu cukup untuk merengkuh gelar juara dunia. Berlanjut di tahun 1995, dimana Mick Doohan kembali menjadi jawara setelah mengalahkan rekan satu timnya, Alex Criville' Mick Doohan meraih 7 kemenangan dan Alex Criville hanya meraih 1 kemenangan saja. Sisanya diraih oleh Alberto Puig dari tim Fortuna Honda Pons yang juga hanya 1 kali menang.

Musim 1996 merupakan musim yang sangat sengit bagi Mick Doohan, dimana ia bertarung mati-matian mempertahankan gelar juara ditengah gempuran pembalap tim satelit dan tim Marlboro Yamaha' pempalap sekelas Mick Doohan berhasil merengkuh kemenangan sebanyak 8 kali kemudian disusul Alex Criville dengan 2 kemenangan. Selanjutnya di tahun 1997 merupakan musim tersukses bagi Mick Doohan, dimana ia meraih kemenangan terbanyak dengan jumlah 12 kemenangan dan disusul oleh rekan setimnya yang lain yakni Alex Criville dengan 2 kemenangan serta Tadayuki Okada dengan hanya 1 kemenangan saja.

1998 merupakan musim mengejutkan dimana pembalap pendatang baru yang bernama Max Biaggi berhasil meraih kemenangan sebanyak 2 kali dan menempel ketat dibawah Mick Doohan. Alex Criville juga meraih kemenangan 2 kali. Sementara itu Carlos Checa yang merupakan pembalap tim Movistar Honda Pons berhasil meraih 1 kemenangan bagi dirinya sendiri.

Tahun 1999 menjadi akhir dari kejayaan Mick Doohan, saat itu Doohan memutuskan untuk pensiun akibat cidera parah saat melakoni kualifikasi di GP Jerez, Spanyol. Alex Criville memanfaatkan ketidakberdayaan Mick Doohan sehingga berhasil merengkuh gelar juara dunia dengan meraih 6 kemenangan.

Tadayuki Okada, rekan satu tim Criville malah berhasil meraih 3 kemenangan setelah bertarung sengit dengan Max Biaggi dan Norick Abe. Ini merupakan musim yang cukup ketat dan sengit setelah Mick Doohan memutuskan untuk pensiun dari dunia balap. Berlanjut di tahun 2000, dimana musim itu cenderung lebih ketat dari musim 1999' Valentino Rossi naik kelas dari kelas 250cc ke kelas 500cc dengan mengendarai Honda NSR 500 bersama tim Nastro Azzurro Honda' ditambah kembalinya Loris Capirossi ke kelas 500cc setelah 3 tahun bertarung di kelas 250cc.

Di musim tahun 2000, ada 3 pembalap Honda NSR 500 yang meraih kemenangan dalan setiap seri ' diantaranya Alex Criville dengan 1 kemenangan, Valentino Rossi  dan Alex Barros dengan 2 kemenangan serta Loris Capirossi dengan 1 kemenangan saja.

Tahun 2001 merupakan akhir kejayaan dari Honda NSR 500 dengan melahirkan Valentino Rossi sebagai legenda baru MotoGP. Valentino Rossi waktu itu berhasil membukukan 11 Kemenangan dan Alex Barros mencetak 1 kemenangan saja di GP Mugello.

Masuk tahun 2002, mesin Honda NSR 500 diganti dengan mesin Honda RC 211V tipe 4 tak.
Di tahun itu yang membalap dengan Honda NSR 500 hanya Daijiro Kato, Loris Capirossi, Tetsuya Harada, Jurgen Van den Goorbergh & Alex Barros tanpa menorehkan kemenangan sekalipun.

*****

 

Senin, 15 Februari 2021

Honda Pernah Juara Tanpa Embel-Embel Sponsor Pada Tahun 1994

 

Honda pernah menjuarai kelas 500cc tanpa embel-embel sponsor besar di livery nya.
Itu terjadi pada tahun 1984 dan 1994 dimana saat itu kondisi keuangan tim tidak berjalan baik dengan prestasinya yang mentereng. 

Tahun 1994 merupakan tahun dimana Honda harus merelakan kepergian Rothmans ke F1, hal ini dikarenakan bergabungnya Ayrton Senna ke tim Williams Renault. Popularitas Ayrton Senna jadi penyebab dibalik hengkangnya merek rokok asal Australia ini.
 
Namun, dibalik hengkangnya merek rokok Rothmans menjadi berkah bagi Honda sendiri terutama di kubu Mick Doohan. Mick Doohan rela tidak dibacking sponsor demi merengkuh gelar juara yang selama ini ia dambakan sejak lama. 
 
Setelah mendapat pesangon dari Rothmans, Honda mengajak mantan kepala mekanik Wayne Rainey yaitu Jeremy Burgess. Jeremy Burgess diundang untuk membantu Mick Doohan untuk menjinakkan motor NSR 500 yang memakai mesin Big Bang. 
 
Ditambah saat itu Honda juga sedang menugaskan Erv Kanemoto, mantan kepala mekanik Wayne Gardner untuk membesut tim kelas 250cc yang kala itu ditempati oleh pembalap asal Jepang' Tadayuki Okada. 
 
Honda mengaku tidak rugi mendatangkan Jeremy Burgess mengingat saat itu Honda selalu gagal menjadi juara konstruktor lantaran kalah kompetitif dengan Yamaha dan Suzuki.
Meski harus memakai livery berwarna merah putih biru, Honda malah jadi momok menakutkan dan kembali menemukan kebringasannya di lintasan. 
 
Bergabungnya Alex Criville jadi penyebab mengapa Honda seakan beruntung di tahun itu karena ada dugaan isu masuknya Repsol menggantikan Rothmans . Namun, karena Honda belum tentu deal dengan Repsol maka untuk sementara waktu Repsol harus menyeponsori tim Honda Pons beserta Alberto Puig nya.

Sepanjang musim 1994, Mick Doohan dijagokan sebagai calon penguasa baru gelaran balap GP 500. Ternyata saat itu ada beberapa perlawanan yang sempat jadi halangan bagi Doohan' diantaranya John Kocinski yang menggeber motor pabrikan Italia, Cagiva C594 dan kerasnya rivalitas dengan Kevin Schwantz yang mengendarai Suzuki RGV 500. 

Namun, bagi Doohan semua terasa amat mudah semenjak ditinggal sponsor dan apa yang ia impikan jadi kenyataan dengan nihil kecelakaan di sesi balapan dan hanya mengalaminya saat sesi latihan bebas dan kualifikasi. Serta dukungan teknis dari mekanik barunya, Jeremy Burgess semakin mempermudah jalan Mick Doohan menjadi juara.

Musim 1994 Doohan mengoleksi 9 kemenangan dan 5 podium secara keseluruhan dengan nilai 317 poin. Semenjak Doohan jadi juara dunia, maka dimulailah suatu era dimana motor balap 500cc identik dengan NSR sebagai ikonnya.

*****